BREAKING NEWS
Search

Inovasi dan Berani Melangkah


Bambang Sumargono, Associate Director Lippo Homes (Lippo Group)


Sibuk, itu pasti. Apalagi dia kini diserahi sejumlah tanggung jawab besar, terutama untuk mensukseskan pembangunan dan pengembangan sejumlah proyek prestisius di kawasan timur Indonesia. Maka tak heran, cukup sulit mencari celah waktu untuk mewawancarai salah satu Director di grup pengembang properti terbesar di tanah air – Lippo Group – ini.

“Saya dalam perjalanan ke Kota Manado, mungkin kita bisa wawancara saat ini,” demikian pesan pendek yang diterima wartawan Majalah Property and The City, akhir Juni lalu.

Dalam wawancara mealui telepon, sore itu, Bambang Sumargono yang kini adalah Associate Director Lippo Homes (Lippo Group), menceritakan perjalanan karirnya hingga sukses saat ini. Cukup mulus perjalanan suksesnya, pasalnya tidak banyak pintu perusahaan yang pernah dia sambangi. Setelah sempat menjalankan usahanya sendiri sebagai kontraktor, alumni Teknik Sipil, Universitas Kristen Indonesia (UKI) ini akhirnya berlabuh Lippo Group, pada 1996 silam. 

“Tahun 1996 saya gabung di Lippo, cuma saat itu saya di Finance Insurance,” demikian Bambang mengawali ceritanya.

Pada tahun 1997, Bambang beralih ke bidang properti, masih di perusahaan yang didirikan oleh Mochtar Riady tersebut. Dia dipercayakan sebagai Sales Manager untuk menangani pemasaran sejumlah proyek. Posisi tersebut diterima sebagai bentuk tanggung jawab-nya untuk memajukan perusahaan. Sejumlah target besar harus dia penuhi pada setiap periodenya, meski harus bertemu dengan sejumlah costumer nyentrik. 

“Inilah tantangan yang harus saya hadapi setiap saat,” kata ayah dari Jeremy & Jonathan ini.

Karirnya terus menanjak, hingga akhirnya pada 1999 dia dipercaya menjadi General Manager untuk menengani sejumlah proyek ritel dari Lippo Group. Pada periode 2002/2003, bambang ditarik ke divisi produk. “Di bagian produk, saya bukan lagi di bagian sales, target saya sudah lebih kepada produk,” katanya.

Sukses di Proyek Pertama

Setelah cukup lama berkecimpung di proyek ritel, akhirnya pada 2005 Bambang mulai mengarungi proyek-proyek high rise residence - apartment. Bangunan vertikal pertama yang menjadi tanggung jawab Bambang saat itu adalah Kemang Village. 

“September 2007 kita launching. Tapi saya preparation-nya dari 2005. Jadi cukup lama,” ucapnya.

Bagi Bambang, tanggung jawab untuk menangani Kemang Village adalah sebuah tugas yang cukup menantang. Saat itu, sebut dia, belum ada satu pun proyek mixed-use development di daerah Kemang. Belum lagi image masyarakat sekitar lebih kepada landed house. Apalagi, lokasinya pun tidak seperti ritel pada umumnya yang berada di pinggir jalan. 

“Lokasi kami memang agak masuk ke dalam. Sehingga perlu sosialisasi dan pergerakan yang cukup intens. Jadi strategi yang saya lakukan, pertama adalah image building. Kita mesti membangun image agar ada orang yang sadar bahwa ada sebuah produk bagus di tengah kota Jakarta Selatan. Kedua, Kemang punya keunikan, bahkan dulu sering disebut sebagai Kuta (Bali)-nya Jakarta. Inilah yang saya jadikan sebagai tema dalam konsep memasarkan produk ini. Ketiga, di daerah Kemang juga banyak sekolah/lembaga asing. Dengan demikian, kami menjadikan Kemang Village ini sebagai sebuah hunian komunitas ekspatriat. Di sini ada sekolah internasional dan mall bertaraf internasional. Dan sekarang, banyak investor yang akhirnya berinvestasi karena para WNA ini kan hanya bisanya sewa,” papar anak pertama dari tiga bersaudara.

BACA: Berubah, Berusaha, Pasti Bisa!

Terbukti, Bambang melanjutkan, harga sewa hunian seluas 144 m2 di Kemang Village dibanderol USD 2.800-USD 3.000, lebih tinggi dari hunian di sekitar Pondok Indah dengan luas 165 m2, yang hanya USD 2.400- USD 2.500. 

“Kenapa, karena di Kemang sudah terbentuk yang namanya komunitas ekspatriat,” tandasnya.

Sukses di Kemang Village, pria kelahiran Medan, 17 Oktober 1967 ini pun dipercaya menangani sejumlah proyek ritel lainnya di beberapa daerah, seperti di wilayah Jawa Barat, Medan, Makassar, dan Manado. Adapun di Depok adalah apartemen Park View dengan 3.000-an unit. Di Medan ada Apartemen Palladium juga dengan jumlah sekitar 3.000-an unit. Selanjutnya, Apartemen Bellagio di Sentul juga ia tangani, dan Orange County Cikarang.

Garap Indonesia Timur

Sukses menggawangi beberapa proyek sebelumnya, kini Bambang diserahi tanggung jawab ‘membangun’ kawasan Indonesia Timur. Tepatnya di Manado, Sulawesi Utara, suami dari Aneke Najoan ini tengah giat mensukseskan proyek anyar Lippo Group, yakni Monaco Bay, Manado Resort City.

Menurut Bambang, Manado akan berkembang menjadi kota yang sangat pesat. Potensi perkembangannya sudah mulai terlihat dengan penetapan KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) di Bitung, oleh Pemerintah Pusat. Dengan begitu, Manado akan menjadi salah satu pintu gerbang Asia-Pacific di Indonesia.

“Pertumbuhan ekonomi di Manado ini sangat bagus sekali. Manado juga termasuk salah satu kota yang aman di Indonesia. Inilah beberapa alasan yang membuat saya sangat optimis untuk bisa masuk market Manado. Dan ternyata cukup sukses. Bahkan yang dua bedroom ke atas sudah habis,” terang Bambang yang juga penyayang anjing giant boxer.

Monaco Bay dikembangkan dengan konsep luxurious resort style integrated, pertama dan satu-satunya di wilayah Indonesia Timur. Proyek prestisius ini disebut-sebut akan dapat menyandingkan Manado dengan kota-kota resort berstandar internasional di dunia, seperti Monaco City.

Berani Melangkah

Bagi bambang, suksesnya kini tak lepas dari dukungan berbagai pihak, terutama keluarga tercintanya. Isteri dan anak-anaknya adalah inspirasi dan penyemangat ketika aral menyapa. Tidak hanya itu, atasannya di kantor ia bernaung adalah guru dan inspirator yang tak henti mendukungnya dalam berkiprah. Dukungan dan semangat inilah yang telah menghantarkan Bambang pada sejumlah prestasi membanggakan yang telah digapai.

“Dari sisi unit, saya pernah mencapai penjualan tertinggi di Orange County Cikarang. Dalam dua bulan, kami bisa menjual 1.500 unit. Tapi kalau dari sisi amount, rekor tertinggi yang pernah saya pecahkan adalah di The Bloomington di Kemang Village. Dalam tempo satu bulan saya bisa jual hampir Rp 1 triliun,” jelasnya.

Inovasi dan berani melangkah, demikian Bambang dalam setiap komitmennya melalui tanggung jawab yang ia emban. Setiap tantangan yang dia hadapi, selalu dapat terselesaikan dengan baik. Bahkan disaat ekonomi tengah ‘galau’ di 2008 lalu, Bambang mampu bangkit dengan sejumlah inovasi yang dia lakukan, baik melalui promosi, kerja sama dengan bank, dan beberapa program lainnya. 

“Tantangan terberat saya di-2008 ini, tapi dengan berbagai inovasi, kami bisa keluar dari tantangan tersebut. Justru, di saat properti lain sedang turun, kami bisa melakukan penjualan yang signifikan,” terangnya. 

Tantangan lain, lanjutnya, kebijakan yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) soal loan to value (LTV) 2013 dan yang diperketat dengan beberapa aturan pemerintah berdampak signifikan pada properti. Hal ini menjadikan Lippo Group semakin memperketat penjualan produknya. Namun dalam kondisi tersebut,  Bambang mampu menyiasatinya. 

“Kita merubah segmen produk ke segmen yang secara langsung tidak berdampak. Sementara ini kami masih ke level menengah,” jelasnya.

Kini, Bambang boleh terseyum bangga atas pencapaiannya. Bambang telah berani melangkah menggapai suksesnya itu. 

“Anda tak pernah melakukan segalanya di dunia ini tanpa adanya keberanian. Itu adalah kualitas terbesar dari pemikiran setelah kehormatan,” demikian Bambang mengakhiri wawancara dengan mengutip filsuf Yunani, Aristoteles.[Pius Klobor - Majalah Property and The City Edisi 12/2015]



nanomag

Mereka akan selalu mengenangmu melalui karya yang menginspirasi dan tak berkesudahan


0 thoughts on “Inovasi dan Berani Melangkah