BREAKING NEWS
Search

Mengenal Kerajinan Ketak NTB yang Mendunia

Ada yang unik dari kerajinan ketak, semakin lama disimpan maka warnanya akan semakin nampak dan semakin eksotis pula produk khas NTB tersebut.


Indonesia memiliki beragam produk kerajinan yang khas dan unik yang tak dimiliki negara lain. Apalagi didukung oleh sumber daya alam yang berlimpah, berbagai daerah pun seolah berlomba menampilkan beragam produk khasnya masing-masing. Sebut saja kerajinan anyaman dari mendong/fimbristylis globulosa (tanaman rumput hidup di tanah basah) yang banyak digiati oleh masyarakat di wilayah Jawa Barat.

Demikian halnya di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Ada sejenis tanaman paku-pakuan yang biasanya menjalar pada induk pohon, atau yang lazim disebut masyarakat setempat dengan nama “Ketak” (Lygodium Cincinatun) – Batang tanaman liar ini hampir serupa dengan rotan namun lebih kecil dan lebih elastis.

Oleh karena hampir serupa dengan rotan, maka masyarakat setempat pun memanfaatkannya untuk diolah menjadi berbagai jenis kerajinan anyaman. Jika pada zaman dahulu, ketak hanya digunakan untuk membuat peralatan rumah tangga, kini dengan berbagai kreativitas dan inovasi, ketak dapat disulap oleh para perajin NTB menjadi berbagai bentuk, desain, dan fungsi. Adapun hasil kerajinan dari ketak tersebut dapat berupa, tas wanita, tempat tissue, tatakan gelas, tempat payung, piring buah, taplak meja, dan masih banyak lagi.

Kini kerajinan ketak sudah menjadi andalan masyarakat NTB. Kerajinan yang diwariskan turun temurun sejak 1970-an ini menjadi lumbung pemasukan bagi lebih dari 6.000 perajin lokal – Kerajinan ketak sudah mampu menyokong perekonomian masyarakat di sekitar sentra dan masyarakat NTB, serta menimbulkan multiplier effect di sektor lainnya, terutama sektor pariwisata NTB.

Sentra-sentra kerajinan lokal juga telah tersebar di berbagai wilayah di NTB. Antaralain di di Lombok Tengah maupun di Lombok Barat, seperti di Desa Belaka, Desa Janapira, Desa Kopang, dan Desa Nyurbaya, serta Desa Lingsar.

Hingga kini, para perajin masih mempertahankan tradisi turun temurun, membuat kerajinan ketak dengan cara tradisional, tanpa mesin. Proses pembuatan ketak melalui beberapa tahapan, yakni penjemuran dan pengsapan dengan jarak waktu selama tiga hari guna mendapatkan warna yang sesuai. Selanjutnya pengeringan yang juga memakan waktu selama tiga hari dan tiga malam. Dengan demikian, produk kerajinan yang nantinya dihasilkan akan terbebas dari jamur, bebas rayap, serta bahan kimia.

Ada yang unik dari kerajinan ketak ini, semakin lama disimpan, maka warnanya akan semakin nampak dan semakin nampak pula eksotis produk tersebut.

Kini beragam rupa dan bentuk, serta fungsi kerajinan ketak tersebut tidak hanya mampu menyihir pasar lokal dalam negeri saja, namun telah merambah ke pasar-pasar mancanegara. Jerman, Perancis, Inggris, Amerika, Australia, Korea, Jepang, dan Tiongkok, adalah sebagian diantara peminat ketak dari pasar dunia internasional. Para perajin lokal pun kini telah menikmati pemasukan hingga ratusan juta per bulannya.

Inilah salah satu bukti nyata bahwa betapa banyaknya peluang bisnis yang bisa kita kembangkan dari daerah kita masing-masing dengan memanfaatkan potensi yang ada. Tentu, dukungan pemerintah dan lembaga terkait lainnya juga sangat dibutuhkan, terutama bagi pelaku usaha kecil agar terus berkembang, berinovasi, dan berkreasi meningkatkan daya saing usaha/produknya agar siap menghadapi arus persaingan di pasar yang lebih luas. [pius/IndoTrading News]


TAG

nanomag

Mereka akan selalu mengenangmu melalui karya yang menginspirasi dan tak berkesudahan


0 thoughts on “Mengenal Kerajinan Ketak NTB yang Mendunia