BREAKING NEWS
Search

Merdi Sihombing: Jangan Bicara Fesyen Alami Jika Tidak Dibudidayakan (1)

Merdi Sihombing (Foto: Pius)
Meggunakan pewarna alami pada produk fesyen, selain lebih ekonomis, juga tentu ramah lingkungan. Untuk itu, industri fesyen, maupun para perajin kain pun terus dihimbau agar sedapat mungkin menggunakan bahan ramah lingkungan pada produknya. Tapi ingat, pada suatu waktu, sumber dari alam tersebut pun bisa habis. Maka langkah tepat yang harus dilakukan sejak sekarang adalah membudidayakan sumbernya tersebut.

Pada umumnya, untuk bahan dasar pewarna alami masih banyak digunakan racikan dari berbagai jenis tanaman atau tumbuhan. Namun kini, bio fashion pun mulai dikembangkan di Indonesia. Adalah desainer Merdi Sihombing. Ia kini fokus pada pengembangan sekaligus pembudidayaan warna-warna alami dari biota, hewan laut, seperti teripang, cumi-cumi, rumput laut dan lainnya.

Bersama beberapa komunitas penenun di beberapa daerah, mereka pun terus mengedukasi masyarakat untuk mengembangkan warna alam yang ramah lingkungan tersebut. “Gerakkan kami ini juga menitikberatkan pada bagaimana memudidayakan berbagai sumber alam, agar terus dapat dimanfaatkan. Jangan sampai, karena eforia warna alami, kita malah kehabisan sumber-sumbernya,” ujar Merdi ketika diwawancarai Pius Klobor dari IndoTrading News, beberapa waktu lalu.

Berikut nukilannya:

Pemerintah sedang gencar mengkampanyekan bahan fesyen yang ramah lingkungan, termasuk pewarnanya. Bagaimana pendapat Anda?
Sebenarnya itu adalah langkah yang baik. Namun kalau saya bukan hanya ngomong soal warna alami saja, tetapi bagaimana membudidayakannya.

Maksudnya?
Ya, karena eforia warna alam ini, jika kita tidak siap dengan lebih matang, maka akan sia-sia. Maksudnya, pemerintah juga harus berpikr untuk bagaimana membangun perkebunan industrinya. Artinya harus dimulai dari perkebunan, sehingga tidak merusak alam Indonesia.

Apakah ini sudah mulai Anda lakukan?
Yang saya lakukan bukan hanya pada tumbuh-tumbuhan yang saya develop, tetapi hasil laut, seperti batu mineral, tambas, dan beberapa lain. Jadi, jika kebanyakan orang masih gunakan tumbuh-tumbuhan, kami tidak. Karena Indonesia belum siap ke sana. Jadi seperti dua sisi mata uang. Ketika kita berbicara warna alam dan kita gunakan tumbuh-tumbuhan, itu sama dengan kita membunuh dia. Jadi kita harus perlu membudidayakannya terlebih dahulu. Itu yang sudah mulai saya lakukan.

Bagaimana bisa memanfaatkan hasil laut tersebut sebagai bahan pewarna alami?

Indonesia ini negara maritim. Harusnya lautnya yang bisa dijual, terutama Indonesia Timur. Untuk di Indonesia Timur, kami bisa gunakan pewarna alaminya dari binatang lautnya, seperti teripang, cumi-cumi, rumput laut, itu sekalian kita bisa menjual tourism, alam bawah lautnya. Jadi sekali kita kerja, tetapi kena beberapa bagian. Itu yang kami lakukan.

Selanjutnya?
Cotohnya teripang yang saya dalami bersama kelompok penenun lokal di daerah Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kita tahu, bahwa teripang ini kan sudah menjadi komoditas sejak jaman dahulu, dijual ke China dan menjadi makanan dan obat. Nah, biasanya sebelum teripang tersebut dijual, kan harus direbus dan dikeringkan/diasapkan terlebih dahulu. Air rebusan teripang inilah yang kami manfaatkan sebagai zat pewarna alami. Daripada dibuang ya kita manfaatkan lagi.

Proses yang sama juga dilakukan dengan cumi-cumi atau lainnya?
Pada dasarnya sama saja seperti yang dilakukan pada teripang. Jadi tidak ada yang terbuang. Pewarnaan alami seperti ini kami sebut by product atau konsep bio fashion. Dan ini yang sekarang dunia internasional sudah gencar ke sana. Indoesia belum mengerti.

Lalu warna apa saja yang bisa dihasilkan dari teripang atau cumi-cumi tersebut?
Bisa beragam warna, seperti hitam, oranye, kuning, kemerahan, hingga keunguan. Bahan pewarna inilah yang kemudian dijadikan sebagai bahan pewarna pada tenun ikat yang dihasilkan oleh petenun lokal. Ini yang sudah mulai di Alor. Dan tenun yang dihasilkan pun sangat alami dan eksotis banget.

Butuh waktu berapa lama untuk bisa menghasilkan sebuah warna?
Tergantung kita maunya warnanya seperti apa. Kalau kita maunya warna lebih tua atau lebih pekat ya, lebih lama, kita celup berulang kali lagi.

Jadi 100 persen natural?
Ya, semuanya alami. Kami sama sekali tidak menggunakan atau mencampur dengan bahan lainnya.

Lalu bagaimana dengan bahan tenunannya, seperti kapas?
Inilah yang juga kami lakukan. Kami selalu mengimbau dan minta para pengrajinnya lokal, supaya mereka juga menjadi petani. Artinya mereka juga bisa menanam kapas sendiri. Karena kalau kita bicara fashion Indonesia yang asli dan alami, atau soal kebangkitan kain tenun Indonesia, itu harus kembali lagi ke jaman dahulu. Ketika itu, semua bersumber dari alam, bahkan kapas pun ditanam sendiri.

Berarti pemerintah masih kurang dalam hal ini?
Nah, harusnya pemerintah jangan dulu berpikir ke hilirnya. Hilirnya itu siapa, fashion design, itu nanti dulu. Pemerintah harusnya mengalokasikan dana yang utama itu ke para pengrajin untuk menanam kapas, menanam tanaman untuk pewarnaan alam. Oke, fashion week sebagai hilir, boleh saja. Tetapi mungkin uangnya bisa dibagikan juga, jangan semuanya di hilir saja. Dengan begini, kejayaan fesyen Indonesia pasti akan muncul di negara kita. [pius klobor/IndoTrading News]

Bersambung…

Baca juga: 



nanomag

Mereka akan selalu mengenangmu melalui karya yang menginspirasi dan tak berkesudahan


0 thoughts on “Merdi Sihombing: Jangan Bicara Fesyen Alami Jika Tidak Dibudidayakan (1)