BREAKING NEWS
Search

Merdi Sihombing: Dari Medan, Kini Arungi NTT (2)

Setelah sukses memerpekanlkan indigo sebagai warna khas dari Medan, kini Midian Sefnat Sihombing atau yang kerap disapa Merdi Sihombing mengarungi kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia memulai dari Alor. Di Pulau Kenari ini, tepatnya pada pagelaran Swarna Festival yang diselenggarakan oleh Direktorat Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, November 2013 tahun lalu, ia berhasil memperkenalkan kain tenun khas dengan pewarna alami dari hewan laut, seperti teripang dan cumi-cumi.

Konsep underwater dengan pemotretan dan show produk tenun di bawah laut ia usung sekaligus untuk juga memperkenlkan potensi wisata NTT, khususnya keindahan bawah laut dari Pulau Alor.

Selain di Alor, Merdi juga telah mendatangi Ndao di Pulau Rote, dan bersama petenun dan pengrajin lokal, mereka membudidayakan dan mengelola warna alam dari tumbuhan endemis setempat.

Kini giliran Lembata, daerah berikutnya di NTT yang segera didatangi desainer kawakan tersebut. Desa Lamalera, desa nelayan yang terkenal dengan tradisi penangkapan paus sejak leluhur rupanya cukup menarik untuk didatangi perancang busana kelahiran Medan, 21 Mei ini. Di sinilah ia hendak memberdayakan masyarakat setempat untuk juga memanfatkan tulang-tulang ikan menjadi berbagai aksesori, pelengkap fesyen.

Berikut, penuturan Merdi Sihombing kepada IndoTrading News, beberapa waktu lalu:

Apa yang Anda lakukan di daerah-daerah yang didatangi?
Berbeda-beda di setiap tempat yang saya datangi. Untuk di Alor, saya develop dari biota laut. Kalau di Ndao, Rote, dari tumbuhan endemis setempat. Sementara di Samosir, Batak, dengan indigo. Jadi sekalian juga saya mendata potensi pewarna-pewarna alami yang ada di berbagai daerah di Indonesia. Selama ini kan orang cuma tahu yang itu-itu saja.

Berarti daerah-daerah akan punya ciri tersendiri?
Jadi ketika kami ke suatu daerah, kami akan data dan gunakan. Kami akan coba semuanya. Jadi kita semakin tahu sumber warna-warnanya apa saja yang ada di daerah itu, atau di wilayah ini paling bagus dan mudah gunakan warna alami apa dengan jenis bahan apa. Jadi di setiap daerah memiliki ciri dan kekhasannya masing-masing. Kita bicara warna alam, kita tidak punya data akurat, berapa banyak, dan sampai pada penjulan; distribusi, harganya, nggak pernah ada data yang akurat. Sementara jika saya berbicara di dunia internasional, mereka sudah punya. Bahkan beberapa negara Asean juga sudah punya.

Berarti Indonesia masih cukup ketingalan?
Indonesia masih ketinggalan sekali. Dan itu saya pikir juga menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah. Jangan hanya memikirkan hilirnya saja, seperti event ini (IFW). Jadi jangan hanya pameran saja, hulunya juga dibenarin. Ini selalu saya teriak kepada pemerintah.

Berarti di hulu termasuk dengan memudidayakannya?
Iya. Makanya kami bergerak sendiri dengan komunitas. Jadi kami lebih dahulu, mungkin nanti kalau sudah jadi baru pemerintah bisa lebih membuka mata, bahwa bisa seperti ini.

Anda sudah mendatangi beberapa daerah di NTT. Selanjutnya akan ke mana?
Di Ndao saya disponsori oleh sebuah lembaga dari luar negeri, juga beberapa dari dalam negeri. Kemudian di Alor oleh Kementerian Perindustrian dari Dirjen IKM wilayah III. Untuk di Lembata saya sementara mencari dana. Ini saya lakukan supaya semua proyek saya dihargai, karena saya tidak mau menjual baju.

Kenapa?
Realistis saja, industrinya belum bisa jalan, kalau jualan baju. Mimpi saya jauh sekali untuk ke global dengan kekuatan Indonesia ini, yaitu serat alam dan pewarna alam yang 100 persen Indonesia. Jadi pemikiran saya yang dijual. Ide saya, dari mulai proyeknya mau dibuat apa, kemudian pengerjaan, terus komunitasnya dibangun, merubah mindset komunitas, terus kita ajari komunitasnya supaya mereka pintar, jadi tidak ada lagi pembodohan.
Merdi Sihombing (Foto: Pius)
Jadi Anda ke daerah termasuk juga untuk mempromosikan penggunaan bahan alami, terutama bahan lokal setempat?
Bukan hanya itu. Saya juga mengajarkan pemikiran-pemikiran supaya orang daerah juga pintar, cerdas, bisa berkembang, dan jangan dibodohi. Saya juga mengajak mereka untuk hadir di setiap pameran, baik dalam maupun luar negeri.

Konkritnya seperti apa?
Sejak 2003-2006 saya kerja untuk Baduy. Dulu orang nggak tahu Baduy itu apa, serba misterius. Sekarang setelah saya keluarkan baru Baduy mulai dikenal. Saya mengangkat sarung Baduy dalam peragaan busana bertema Forbidden Baduy pada 2006. Ini saya persiapkan selama sekitar tiga tahun. Saya masuk ke perkampungan dan melakukan pendekatan kepada masyarakat Baduy. Saya mempelajari dan memdalami budayanya mereka terlebih dulu.

Lantas apa pendapat Anda terhadap keberagaman budaya NTT yang tercermin melalui tenunan dan motif-motifnya?
Saya sudah cukup sering mengunjungi berbagai wilayah di NTT, seperti di Pulau Timor, Alor, Rote, dan Lembata. Saya melihat ada tiga kekuatan yang memang harus diangkat. Ketika bicara di Alor, saya mau kasih lihat bahwa Alor punya underwater yang luar biasa yang tidak kalah dengan underwater, seperti di Bunaken atau di Raja Ampat. Tapi orang belum banyak tahu. Nah ini yang saya mau bekerja melalui kain tenun, saya mau menceritakan kepada dunia. Jadi bukan sekadar seperti menjual kain, tapi semua aspek kita bisa sekali jalan. Kalau di Ndao saya bercerita tentang keterisolir-nya Ndao dan spirit fighter mereka. Mereka bisa keluar dari itu. Itulah yang mau saya ceritakan, apalagi mereka juga termasuk daerah terluar Indonesia. Saya mau, ketika orang bicara tentang NTT, tilangga itu dari Rote, sasando dari Rote.

Bagaimana dengan Lembata?
Kalau di Lembata, saya akan kasih tahu, perburuhan ikan paus yang sudah dilakukan sejak leluhur itu sekarang sudah menjadi komersial. Dan nanti akhirnya keseimbangan alam akan tidak terjaga dan berakibat langsung pada manusia yang terkena dampak negatifnya. Terus kemudian dibunuh itu kan banyak tulang-tulangnya yang menjadi sampah. Sampahnya itu yang akan kita gunakan menjadi aksesori yang akan melekat di kain. Karena kain mereka itu kan putih hitam yang eksotis banget. Dan saat saya di situ juga kita akan mengimbau masyarakat setempat untuk juga membudidayakan warna alamnya. Kalau Lamalera ya, biarin aja dengan tenun hitam putihnya. Itu bagus sekali.

Lalu bagaimana dengan motifnya?
Semua motif, pasti punya cerita masing-masing. Sehingga apapun kondisinya, jika sebuah kain tenunan yang akan kami jadikan produk pakaian, atau lainnya, tak sediktipun kami kurangi cerita dibalik motif tersebut. Misalnya, kain tenun yang akan sya jadikan jaket, atau sarung, tidak akan saya gunting karena itu akan mengurangi arti/motif sesungguhnya dari tenunan tersebut. Jadi tidak ada motif yang kami buang. Karena di mana pun, tidak hanya di Indonesia, tapi di seluruh etnik di dunia, motif itu bercerita. Jadi kita nggak boleh memotong cerita itu. Jika motif itu terpotong, maka cerita yang dibuat oleh leluhur kita yang tertuang di kain itu, pastik akan hilang.

Apa harapan terbesar Anda?
Harapan saya, ke depannya pemerintah harus lebih peduli, jangan hanya di hilirnya saja. Karena kalau kita bicara soal industri, ini ada local movement, saya pikir, local movement yang seperti apa dulu yang hendak kita bicarakan. Wong kain, benangnya saja masih beli dari luar kok. Jadi pasti mahal. Kita ngomong local movement, apa itu local movement? Sekarang pemerintah juga sudah mendorong 100 persen Indonesia. Mudah-mudahan produk fesyen yang benar-benar 100 persen itu bisa terwujud nyata dan membangkitakn kejayaan fesyen Indonesia di mata dunia. [pius klobor/IndoTrading News]

Baca juga: 




nanomag

Mereka akan selalu mengenangmu melalui karya yang menginspirasi dan tak berkesudahan


0 thoughts on “Merdi Sihombing: Dari Medan, Kini Arungi NTT (2)