BREAKING NEWS
Search

Kisah Insinyur Pesawat yang Jatuh Bangun Jualan Mebel

H. Abdullah (Foto: Pius)
Hidup harus berani berspekulasi. Apapun harus bisa dikerjakan untuk tujuan kesejahteraan dan mewujudkan sebuah mimpi. Ini pula yang dilakukan oleh H. Abdullah. Sejatinya dia adalah seorang engineer aircraft (teknisi pesawat). Namun bukannya terjun menekuni dunia penerbangan tersebut, ia malah kepincut menjalankan bisnis furnitur. Apa alasannya dan kenapa dia lebih memilih jualan mebel?

Pria kelahiran Medan, 3 Mei 1982 ini mulai menekuni industri furnitur sejak 2001 lalu. Disadarinya, penghasilan yang bakal ia terima dari crew pesawat terbang akan lebih tinggi dibandingkan harus bersusah payah membangun sebuah bisnis baru. Tapi apa jadinya, ia berbulat hati, tetap melangkah menjadi seorang wirausahawan. Dia tak pernah menyesali jalan hidup yang dipilihnya.

“Hidup harus berani berspekulasi. Saya pikir, kalau dulu saya tetap kerja di pesawat, mungkin saya punya posisi yang bagus,” ujarnya singkat ketika berbincang dengan IndoTrading News.

Alasan lain, Abdullah melanjutkan, bekerja di pesawat akan lebih banyak menguras tenaga, belum lagi keluarga yang harus ditinggal terus-terusan. “Istilahnya gak ada tanggal merah. Lebaran pun tetap masuk,” ucapnya.

Alasan-alasan semacam inilah yang kemudian mengubah haluan suami dari Khusnul Khotimah ini untuk mulai berwiraswasta. Pilihannya jatuh pada usaha jualan mebel. Ini lantaran ayah mertuanya sudah sejak lama menjalankan usaha yang sama. Meski begitu, bukan berarti mudah menjalankannya.

Ia harus bersusah payah membangun dan mengembangkan bisnis tersebut. Soal pasokan produk, mungkin saja selalu ada. Tapi ke mana dan bagaimana harus memasarkannya?

“Tahun-tahun awal, 2001, 2002, hingga 2003 belum kelihatan. Usaha ini masih benar-benar merangkak. Sedih ya,” ungkap Abdullah.

Di saat-saat itulah, Abdullah sempat berpikir untuk kembali ke dunia penerbangan. Namun apa daya, dorongan dan dukungan sang istri, serta keluarga dekatnya, menguatkan hati Abdullah untuk terus maju pada bisnis mebelnya itu.

“Hidup mati di mebel aja deh. Apapun terjadi kita tetap di mebel,” tegasnya.

Jatuh Bangun
Salah satu produk mebel “tua” Sumber Mulyo
Di usaha mebel yang kemudian dinamakan “Sumber Mulyo” ini, Abdullah mulai mengembangkan bisnisnya. Produk dipasok langsung oleh sang ayah mertuanya dari pabrik mebel sendiri. Konsentrasi Abdullah mengurusi promosi dan pemasaran.

“Kita kembangkan, kita buat website, kita lobi-lobi ke departemen dan instansi-instansi untuk dapat jadwal dan kesempatan pameran, terutama pameran internasional” kata dia.

Namun demikian, belum juga ada sinyal positif pada pengembangan usahanya. Butuh perjuangan besar. Tak sekalipun terbesit rasa sesal akan keputusannya pada pilihan usaha ini.

“Kita memang sudah mulai ikut pameran, tapi belum juga ada pembeli. Karena banyak saingannya,” terangnya.

Abdullah tak patah arang. Ia begitu yakin akan pilihannya ini. Terbukti, setelah beberapa kali mengikuti pameran, ia akhirnya mendapatkan beberapa pembeli dari Afrika, Belanda, Spanyol, New Zealand dan lainnya. Merasa kebanyakan calon pembelinya adalah dari luar negeri, maka fokus penjulannya pun menyasar pasar mencanegara.

Pilihannya ini tepat, meski banyak hal yang harus ia lengkapi. Kerja ekstra, mulai dari dokumen, dan terutama adalah soal mutu, kualitas, dan keunikan produknya yang menjadi pertaruhannya. Diskusi intens terus ia bangun bersama mertuanya. Mereka mendesain dan mengupayakan berbagai produk yang unik, sesuai selera konsumen internasional. Alhasil mereka memroduksi beragam produk mebel antik terkesan tua, meski itu hanya pada permainan finishingnya. Pasar dunia pun merespon baik produknya tersebut.

“Dari situ akhirnya usaha ini terus berkembang. Allah kasih jalan di situ,” imbuhnya.

Namun benar kata pepatah, “hidup itu menyerupai roda yang berputar. Kadang di atas, namun terkadang harus jatuh.” Di sinilah ujian yang sesungguhnya. Hanya orang-orang kuat dan hebatlah yang mampu bangkit dan berjalan kembali.

Abdullah pernah mengalami kerugian puluhan juta pada sekitar tahun 2008 lalu. Ketika itu seorang pelanggannya asal Polandia mengilang setelah menerima kiriman mebel darinya. Ternyata ia tak sanggup membayar produknya itu dan menghilang begitu saja. Berbagai upaya dia lakukan termasuk mendatangi Kedutaan Besar Indonesia di Warsawa. Hasilnya nihil, rahib entah kemana si pembeli itu.

“Saya kirim 1 kontainer pertama, cocok lalu ia pesan lagi. Kiriman kedua dan ketiga pun demikian. Namun pada kiriman keempat, buyers tersebut malah menghilang entah ke mana. Rugi satu kontainer sekitar Rp70 juta saat itu sangat banyak sekali,” terangnya.

Tak hanya itu, tepatnya pada pertengahan tahun 2013 lalu, gudang furnitur miliknya yang berlokasi di Desa Serenan, Kecamatan Juwiring, Klaten, Jawa Tengah, ludes dilalap si jago merah. Usaha yang sedang ‘naik daun’ bahkan sudah berkembang pesat tersebut, terjun bebas kembali ke titik nol.

“Saat itu bulan puasa. Kerugian ratusan juta mas,” ungkap Abdullah merendah.

Namun dengan asa yang tersisa, ia kembali bangkit, memajukan usahanya itu. “Alhamdulillah, tidak butuh waktu lama, kami bisa bangkit lagi. Saya juga bingung, kok secepat itu kami bisa berjalan kembali,” ungkapnya. Pasca kejadian tersebut, justru semakin banyak pemesan yang memesan produknya.

Meski mengalami kejatuhan, justru ditahun tersebutlah penjualan produknya meningkat drastis. Jika ditahun sebelumnya penjualan mebel Sumber Mulyo hanya mencapai 30an kontainer, pada 2013 meningkat menjadi 55 kontainer. Produknya tersebut lebih banyak dipasarkan ke Amerika dan Eropa.

Dan pada pameran furnitur, IFEX 2014 belum lama ini, Abdullah berhasil mendapatkan sekira 15 buyers internasional. Australia mendominasi dengan empat buyers, sisanya dari beberapa negara lainnya, seperti dari Bulgaria, Amerika, Australia, dan Singapura.

Perjuangan tak kenal lelah, jatuh bangun mengembangkan usaha mebel berlabel Sumber Mulyo. Kini Abdullah boleh berbangga, keputusannya terjun di bisnis ini tepat adanya. Ia boleh berbangga sembari tersenyum lebar menimkmati pundi-pundi rupiah dari usahanya itu. Ratusan juta sudah pasti ia kantongi setiap bulannya. [pius klobor/IndoTrading News]


Baca Juga:




nanomag

Mereka akan selalu mengenangmu melalui karya yang menginspirasi dan tak berkesudahan


0 thoughts on “Kisah Insinyur Pesawat yang Jatuh Bangun Jualan Mebel