BREAKING NEWS
Search

Daur Ulang: “Tak Ada Rotan, Koran pun Jadi”

Sekilas bahan keranjang ini mirip dengan rotan, ternyata terbuat dari koran bekas
Modal awal yang tidak seberapa, kini Salam Rancage yang baru berusia dua tahun itu beromzet belasan juta rupiah per bulannya.

Mungkin Anda akan mengira keranjang kecil ini (foto) terbuat dari rotan. Bentuk dan warnanya yang hampir serupa, ketika diraba pun cukup keras, menyerupai rotan itu sendiri. Tapi jangan salah, keranjang ini terbuat dari koran lho!

“Tak ada rotan, koran pun jadi”. Ya, sekelompok ibu-ibu kreatif asal Bogor Utara telah berhasil mendaur ulang dan menciptakan beragam produk dari koran, kertas, plastik, dan barang bekas lainnya. Rupanya, semua barang bekas tersebut didatangkan dari bank sampah yang berada di wilayah mereka. Kini, beragam produk kreatif bernilai ekonomi mereka hasilkan, seperti keranjang, tas, tempat duduk, rak, vas, tempat tisu, dan berbagai aksesori, serta hasil kerajinan lainnya.

Kepada IndoTrading News, penggagas dan pendiri usaha kreatif yang dinamakan “Salam Rancage”, Tri Permana Dewi, mengatakan kegiatan ini dimulai pada 2012. Bersama lima rekannya yang juga ibu rumah tangga, mereka pun memberdayakan lebih dari 67 ibu rumah tangga di wilayah mereka.

Berikut wawancara selengkapnya dengan Tri Permana Dewi, belum lama ini:
Pendiri Salam Rancage, Tri Permana Dewi (Foto: Pius)
Kapan dan bagaimana memulai usaha ini?

Saya memulainya dari tahun 2012. Cikal bakalnya dari bank sampah yang ditabung oleh warga di Bogor Utara. Saya pikir, tabungan sampah itu kalau hanya dijual begitu saja ke para pengepul kan nilai jualnya tidak terlalu bagus. Selain nilai ekonomi, nilai lingkungan juga kurang dirasakan oleh warga. Dari situ kemudian mulai terpikir untuk memanfaatkan sampah tersebut menjadi produk-produk yang lebih bernilai jual, terutama sampah koran.

Kabarnya warga sekitar juga diberdayakan?

Ya, kami juga melatih warga sekitar, terutama yang menabung sampah untuk bisa membuat produk semacam ini. Awalnya kami hanya melatih enam orang dan sekarang sudah berkembang menjadi sekitar 67 orang. Mereka adalah mitra kami dan kami memberikan insentif dari hasil yang mereka kerjakan tersebut. Ada yang hanya membuat lintingan, ada juga yang menganyam dan lainnya. Apapun yang mereka bisa lakukan, sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dan itu bisa dikerjakan di rumah, sehingga tidak menganggu rutinitas utama mereka. Dengan demikian, misi kami tidak hanya terhadap lingkungan saja tapi juga soal pemberdayaan. Jadi setiap produk yang kami produksi dan kami bawah mengandung dua pesan tersebut (lingkungan dan pemberdayaan). Nah, kami juga sampaikan kepada mitra tersebut bahwa produk yang mereka buat harus bagus, berkualitas ekspor, sehingga mudah dijual.

Produk apa saja yang dihasilkan dari daur ulang sampah tersebut?

Banyak sekali, apapun jenisnya bisa kami buatkan dari sampah tersebut. Kami bisa buat berbagai jenis dan ukuran keranjang, tas, vas bunga, bahkan rak dan berbagai hiasan ruangan atau aksesori lainnya. Semuanya dari barang bekas, seperti kursi ini. bagian luarnya kami gunakan koran bekas, sementara bagian dalamnya kami gunakan kaleng bekas cat dan kain perca untuk bagian atasnya. Prinsipnya, apapun barang bekas yang ada di bank sampah bisa kami manfaatkan.

Sifat koran kan tidak sama dengan kayu atau rotan. Bagaimana menjadikan lintingan koran hampir mirip dengan rotan?
Salah satu produk dari koran bekas (Foto: Pius)
Prinsipnya, koran itu terbuat dari kayu. Pada saat lintingan koran dianyam dan dilem, mereka kan saling mengikat, sehingga menjadi menyatu dan keras. Mungkin masih banyak orang yang meragukan sifat koran, karena mereka melihat hanya selembar yang rapuh. Namun kalau sudah dilinting kan menjadi kuat dan tegang juga. Sementara ada yang terlihat seperti rotan itu hanya finishing saja. Kami gunakan finishing kayu yang tahan air, tahan jamur dan tahan rayap. Jadi hampir sama seperti kayu ataupun rotan. Ada juga beberapa produk yang menggunakan rangka, seperti rak atau kursi, itu kebetulan kami mendapatkan barang rongsokan dari bank sampah sehingga kami manfaatkan.

Bagaimana dengan material lainnya, apakah juga aman terhadap pengguna dan lingkungan?

Insyah Allah produk kami aman digunakan. Kami sudah pikirkan semua material yang digunakan termasuk finishingnya. Semua bahan yang kami gunakan berkaitan dengan kayu, seperti lem kayu, dan lainnya. Karena ujung-ujungnya akan kembali jadi sampah juga.

Dari mana Anda mempelajari semua ini?

Otodidak, saya tidak pernah mengikuti kursus atau apapun. Saya memang dari Bali, besar juga di sana dan nene saya memang suka menganyam, jadi mungkin punya sedikit keterampilan. Namun soal pemanfaatan koran ini memang muncul begitu saja. Kalau browsing (internet) memang saya lakukan, tapi itu terhadap teknik menganyam dengan media rotan. Dan sejak itu kami terus mencoba dan bereksperimen hingga akhirnya bisa kami hasilkan produk yang boleh dibilang mirip rotan ini.

Bagaimana dengan potensi keuntungannya, misalkan untuk sebuah keranjang baju berukuran sedang?

Untuk keranjang ini, bisa kami habiskan sekitar 700 lintingan atau sekitar 3-4 kg koran bekas. Harga koran bekas mulai dari Rp1.000 hingga paling mahal Rp2.000 per kg. Berarti modal untuk bahan utama koran sekitar Rp8.000. Jika ditambah dengan pengeluaran lain, seperti lem atau lainnya, total pegeluaran tidak sampai Rp50.000. Padahal kalau sudah menjadi produk seperti ini, harga jualnya mencapai Rp400.000. Atau misalkan aksesori kecil ini (tempat permen atau lainnya). Ini kan cuma menghabiskan tiga lembar koran yang boleh dibilang tidak ada harganya. Sementara kalau sudah jadi seperti ini, kita jual dengan harga Rp10.000. Jadi nilai tambahnya memang jauh sekali, demikian juga secara lingkungan.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah produk?

Kalau yang kecil, saya bisa hasilkan sebanyak 15 buah per hari. Untuk yang berukuran sedang bisa satu hari (sekira 5 jam) asalkan lintingannya sudah siap.

Apa saja tantangan dalam menjalanakan usaha ini?

Tenaga inti di Salam Rancage hanya kami enam orang. Sementara mitra kami (warga) cuma mengisi waktu luang, sehingga menjadi tidak menentu akan pekerjaan yang mereka jalankan. Dengan begitu, kami juga tidak bisa memprediksi banyaknya produksi kami, sehingga menjadi kurang stabil. Kadang mereka kerja, kadang tidak kerja. Tapi Alhamdulillah sejauh ini target produksi tercapai.

Lantas apa mimpi besar Anda terkait usaha ini?

Target produksi memang tercapai, tapi target kami secara pribadi memang belum. Sejauh ini baru di tiga RT di RW yang berbeda. Kami berharap seantero Tanah Baru, bahkan Bogor Utara bisa menjadi sentra daur ulang. Atau bahkan orang menyebut “Bogor” langsung tertuju pada produk daur ulang, dan sekaligus bisa dijadikan wisata daur ulang.

Bagaimana dengan pemasarannya?

Pemasarannya secara online juga melalui pameran-pameran. Selain kami ikuti pameran di dalam negeri, kami juga pernah pameran ke Thailand, Australia, dan lainnya. Di sana memang ada buyers yang beli tapi sejauh ini kami belum kespor, hanya sebetas mereka membeli saja. Untuk di dalam negeri sudah pasarkan ke Jawa Tengah, Sumatera dan lainnya. Banyak yang pesan untuk acara seperti pernikahan, syukuran, dan juga di Alexandra House di Kemang, Jakarta Selatan. Produk kami ini dipasarkan mulai dari harga Rp10 ribu hingga Rp700-an ribu.

Lalu omzetnya?

Pada awal kami memulai, pendapatan kami berkisar Rp2 juta hingga Rp3 juta. Kalau sekarang minimanlnya mencapai Rp15-an juta. Tapi ini juga tidak selalu sama, kadang naik, kadang turun, tapi rata-rata mencapai angka tersebut. Namun yang terpenting dari itu semua, Salam Rancage mengusung konsep bisnis sosial. Sehingga meski jualan tapi juga melayani dan memberdayakan masyarakat. [pius klobor/IndoTrading News]


Baca Juga:



nanomag

Mereka akan selalu mengenangmu melalui karya yang menginspirasi dan tak berkesudahan


0 thoughts on “Daur Ulang: “Tak Ada Rotan, Koran pun Jadi”