BREAKING NEWS
Search

Ternyata Pisang dan Nenas pun, Jadi Bahan Baku Fesyen

Ilustrasi (Foto: dok. Nara Kreatif)
Bahan dan pewarna alami akan menjadi keunikan dan ciri khas produk fesyen Indonesia.

Kapas atau katun mungkin sudah fasih Anda ketahui sebagai bahan baku untuk membuat berbagai produk fesyen, terutama pakaian. Bahan-bahan seperti ini sudah pasti harus diimpor untuk memenuhi kebutuhan industri fesyen di tanah air. Untuk itu, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian (Kemenperin), terus mendorong penggunaan bahan alami dan pewarna alami lokal, sekaligun juga menjadi ciri khas produk fesyen Indonesia.

“Fesyen Indonesia dominan dengan bahan rayon dan polyester. Tapi jangan lupa juga bahwa Indonesia kaya sekali akan sumber daya alam (SDA),” ujar Dirjen Industri Kecil menengah Kemenperin, Euis Saedah, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kata dia, selama 10 tahun terakhir, Kemenperin sudah mencoba untuk menggali SDA yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan fesyen. Hal ini juga akan menjadi ciri khas sekaligus keunikan dari produk fesyen bangsa Indonesia.

“Kita punya rani, sutera, dan ternyata pisang dan nenas pun bisa dijadikan sebagai bahan baku fesyen. Atau menggunakan ulap doyo dari Kalimantan,” tegasnya.

Euis mengungkapkan, pihaknya terus mendorong industri fesyen dan pihak terkait lainnya untuk terus berinovasi menggunakan bahan alami khas Indonesia. Pada blue print fashion tahun lalu, kemenperin memfokuskan pada standarisasi produk, teknologi, termasuk juga bahan baku.

“Beberapa serat alam dan warna alam sudah kami coba untuk diangkat, terstandarisasi dengan teknologi yang memadai, dan syukur kelak bisa menjadi teknologi tinggi,” ungkapnya.

Serat dan warna alam tersebut, Euis melanjutkan, juga merupakan bagian dari misi Kemenperin untuk menjadikan industri hijau. “Selalu industri menjadi biang keladi dari pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, sejak tahun 2013 kami mencoba mengangkat green fashion yang ditandai dengan peluncuran Swarnafest 2013.”

Swarnafest merupakan sebuah event yang menampilkan serat alam dan warna alam Indonesia. Swarnafest telah melahirkan suatu komunitas dari 100 IKM yang difasilitasi oleh Kemenperin. 30 di antaranya adalah IKM yang mendalami serat alam dan warna alam.

Dengan menggunakan bahan baku alam tersebut, lanjut Euis, setidaknya akan mengurangi ketergantungan Indonesia pada impor bahan baku fesyen. Sebagaimana dilaporkan, pada 2013 lalu, ekspor tektil Indonesia sebesar 10,9 miliar, sedangkan impor tekstil sekitar 5,6 miliar.

“Ini memang terlihat surplus. Namun jika dilihat lebih dalam lagi, ternyata bahan yang diimpor ini banyak banyak sekali digunakan oleh komunitas fashion yang artinya, sebagian besar adalah IKM,” katanya.

“Oleh karena itu, tentu kita sudah harus memulai bagaimana porsi impor ini kita isi dengan barang lokal, mungkin dari 5 persen, kemudian 10 persen. Syukur-syukur one day, kita impornya sedikit saja. Ini adalah konsen dari pemerintah dalam hal ini Kemenperin, bagaimana bahan baku ini bisa digarap,” pungkasnya. [pius/IndoTrading News]



nanomag

Mereka akan selalu mengenangmu melalui karya yang menginspirasi dan tak berkesudahan


0 thoughts on “Ternyata Pisang dan Nenas pun, Jadi Bahan Baku Fesyen