BREAKING NEWS
Search

Bunarto Hardjasaputra, Intens Edukasi RS Akan Pentingnya Produk Lokal Gas Medis (1)

Bunarto Hardjasaputra (Foto: Pius)
Ultra Clean adalah salah satu produk lokal pada Sistem Gas Medis Rumah Sakit yang berhasil ia ciptakan dan telah digunakan di berbagai RS di Indonesia.

Memilih untuk menjadi entrepreneur di bidang medis, apalagi yang berurusan dengan nyawa banyak orang bukanlah perkara mudah. Hanya orang-orang bermental baja dan berani mengambil resikolah yang mau terjun ke ranah bisnis tersebut. Salah satunya adalah Bunarto Hardjasaputra atau yang akrab disapa Bun.

Ternyata, pilihan pria kelahiran Bandung, 1946 ini untuk berwirausaha lantaran dorongan dan asupan semangat yang ia peroleh dari sang maestro wirausaha tanah air, Ir. Ciputra. Ciputralah yang telah banyak memotivasi dan menginsiprasi dirinya untuk juga terjun berdikari. Dari awalnya sebagai kontraktor, kini, Bunarto telah jadi “bos” atas beberapa perusahaan yang ia dirikan, dan salah satunya adalah PT Besindo Medi Sistem – perusahaan yang berurusan dengan Sistem Gas Medis untuk instalasi di berbagai rumah sakit di Indonesia. Bahkan, melalui perusahaan yang ia dirikan sejak 2004 lalu ini, brand “Ultra Clean” pun diperkenalkan sebagai produk dalam negeri ciptaannya.

Nah, berikut nukilan wawancara IndoTrading News bersama pria lulusan Universitas Katolik Parahyangan Bandung, yang juga Direktur Utama di PT Besindo Medi Sistem tersebut.

Bagaimana Anda mulai terjun ke bisnis ini?
Sebetulnya latar pendidikan saya dari Sipil Engineer, lulus tahun 1973 dari Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Awalnya saya bekerja di perusahaan kontraktor bangunan. Saat itu saya mulai terlibat di proyek Pembangunan Perumahan Pulomas, Jakarta. Kemudian saya kembali ke Bandung dan bersama teman, merintis sebuah lembaga konsultasi/konsultan perencanaan. Konsultan perencanaan ini lebih banyak ke pembangunan sekolah, terutama saat itu sedang banyaknya bantuan dari world bank. Dan sebetulnya sampai sekarang, kantor perencanaan ini masih ada, tapi sudah saya serahkan untuk dijalankan oleh yang lainnya.
Akhirnya saya kembali ke Jakarta dan berkecimpung lagi di kontraktor. Saat itu kami bernaung di bawah Tigaraksa Group. Tigaraksa Group ini kan dikenal sebagai agen susu, tapi dia punya divisi kontraktor di Jakarta. Saat itu saya mulai terlibat dalam proyek pembangunan, terutama bangunan-bangunan (kantor) bertingkat. Hingga terakhir adalah membangun Kota Tigaraksa di Tangerang, Banten pada sekitar tahun 1980 oleh PT Panca Wiratama Sakti (pengembang). Saat itu saya sebagai salah satu direksi, khusus untuk urusan teknis. Namun karena beberapa hal, maka saya memutuskan untuk resign dari perusahaan tersebut sekitar tahun 1987.

Selanjutnya apa yang Anda lakukan?
Saya sering bertemu dan pa Ciputra. Dia banyak memberikan saya masukkan, motivasi, dan dukungan untuk bisa berwirausaha. Saat itu saya berpikir, apa yang harus saya lakukan? Nah, dari situ akhirnya saya memulai menjadi developer. Saya berpikir, Kota Metropolitan Jakarta memiliki tempat wisata favorit, adalah wisata gunung (puncak), dan wisata pantai, seperti ke Anyer. Pada tahun 1990an saya mulai membebaskan tanah di sana (Anyer). Ada beberapa lokasi yang saya kemalat kesehatanbangkan di sana, hingga 1998. Pada tahun itu banyak property yang tutup, saya juga terkena imbas krisis moneter lantaran banyak bank yang ditutup.
Saya berpikir, harus ke mana ini? Saya berkeinginan mencoba terjun ke agribisnis, karena saat itu bisnis ini sedang bagus-bagusnya. Namun saudara saya ajak untuk sama-sama terlibat di grup perusahaannya yang menangani alat-alat kesehatan. Saya diminta untuk membantu mendampingi sebuah perusahaan asal Jepang yang akan memberikan bantuan pembangunan Gedung Emergency Unit, Central Operating Theater, dan Intensive Care Unit ke RS Dr Hasan Sadikin, Bandung – Rumah Sakit tersebut memperoleh pinjaman lunak dari Japan International Cooperation Agency (JICA).

Lalu apa yang Anda lakukan bersama perusahaan Jepang tersebut?
Jadi saya bersama perusahaan Jepang ini antara tahun 1999 hingga 2001. Nah, kebetulan saat saya bersama perusahaan Jepang tersebut, yang ditangani adalah mengerjakan Sisitem Gas Medis dan pembuatan kamar operasi. Semua bahan didatangkan dari Jepang, termasuk skrup pun didatangkan dari sana. Dan harganya sangat tinggi. Nah, dari sini, yang tadinya saya sama sekali tidak mengerti, akhirnya mulai memahami. Saya lihat, ternyata bidang ini menjadi peluang bisnis yang lebih menjanjikan untuk seterusnya saya jalankan dibanding agribisnis.

Akhirnya Anda terjun ke sistem gas medis?
Saya mengikuti perusahaan Jepang ini selama hampir tiga tahun. Sayangkan kalau selesai begitu saja? Maka saya mencoba peruntungan di peluang bisnis ini. Saya mencari rumah sakit yang mungkin mau renovasi atau membangun sistem gas medis ataupun ruang operasi. Akhirnya saya dapat RS Husada yang ada di Mangga Besar, Jakarta. Inilah rumah sakit pertama yang memberi kepercayaan kepada saya. Saat itu, kamar operasi RS ini sudah sangat tua dan mereka akan membangun gedung sendiri untuk keperluan operasi. Dari data yang diberikan kepada saya, terlihat bahwa pasien yang dioperasi di RS ini menurun hampir 50 persen selama selama 5 tahun terakhir. Di sini, kami mulai mengerjakan dari tahap desain hingga selesai pemasangan/instalasi gas medis, sekitar tahun 2003. RS Husada sangat puas dengan hasil kerja kami saat itu. Saya pikir, wah ini kesempatan untuk saya bisa lebih maju lagi. Saya bicarakan dengan grup untuk bisa dirikan perusahaan sendiri, khusus gas medis dan kamar operasi. Akahirnya tahun 2004, saya mulai start dengan bendera usaha sendiri, yakni PT Besindo Medi Sistem. [pius klobor/IndoTrading News]

-Bersambung (Brand Ultra Clean)-



nanomag

Mereka akan selalu mengenangmu melalui karya yang menginspirasi dan tak berkesudahan


0 thoughts on “Bunarto Hardjasaputra, Intens Edukasi RS Akan Pentingnya Produk Lokal Gas Medis (1)