BREAKING NEWS
Search

Bunarto dan Temuannya untuk Instalasi Gas Medis RS yang Efisien dan Reasonable (2)

Bunarto Hardjasaputra (Foto: Pius)
Bunarto Hardjasaputra, tak hanya piawai dalam mengelola perusahaan. Pria 67 tahun ini juga ternyata pandai mengutak-atik berbagai mesin dan peralatan kesehatan, khususnya berkaitan dengan gas medis. Ini terbukti dengan keberhasilannya menciptakan “Ultra Clean”, merek berbagai paralatan dan kelengkapan pada sistem Instalasi Gas Medis (IGM) di rumah sakit.

Ultra Clean ia hasilkan sebagai solusi praktis sekaligus tawaran yang lebih ekonomi dan efisien kepada rumah sakit. Tawaran ini pun kini menjadi pilihan tepat pihak rumah sakit dibanding produk impor yang tentu menawarkan harga selangit. Ultra Clean diproduksi dengan tidak mengurangi standard dan kualitas pemanfaatan dan pelayanannya terhadap keberlangsungan hidup pasien.

“Kalau kita sendiri bisa mengembangkan dan menciptakan produk-produk yang berkualitas, kenapa harus impor. Dan yang terpenting adalah bagaimana pasien tersebut bisa mendapatkan pelayanan maksimal dan dengan harga yang benar-benar reasonable,” ujar Direktur Utama PT Besindo Medi Sistem ini kepada IndoTrading News beberapa waktu lalu.

Berikut penuturan lengkap Bunarto:

Kabarnya Anda juga telah menciptakan produk dengan merek sendiri?
Ya, betul. Awal di bisnis ini, saya masih menjadi agen dari sebuah perusahaan Jepang. Namun karena harganya juga sangat mahal, akhirnya saya buat brand sendiri yang dinamakan “Ultra Clean”. Ultra Clean ini adalah produk lokal yang saya ciptakan sendiri di dalam negeri. Jadi saya beli komponennya dari Taiwan, Jerman, Jepang, dan lainnya, lalu saya ubah sedikit, dan saya buat yang namanya Ultra Clean ini. harganya pun jauh lebih murah dibandingkan dengan produk Jepang atau impor lainnya. Jadi mulailah saya memasarkan brand saya, Ultra Clean tersebut.

Bagaimana awal Anda memperkenalkan dan memasarkan produk-produk dengan merek tersebut?
Awalnya memang cukup sulit. Karena setiap saya bawa produk saya ini ke rumah sakit, selalu saja dijegal oleh sebuah perusahaan besar, yang tadinya BUMN, namun kini sudah swasta. Perusahaan tersebut memprovokasi pihak RS bahwa produk saya belum resmi sehingga tidak usaha menerima saya. Yang resmi hanya punya dia karena sudah terdaftar di Depkes.

Lalu apa yang Anda lakukan?
Akhirnya saya juga ke Depkes dan coba memberitahukan produk saya. Kagetlah Depkes-nya karena saat itu belum ada produk di bidang gas medis yang buatan Indonesia. Saya berpatokan pada Keputusan Menteri Kesehatan, bahwa semua produk dari gas medis, harus didaftarkan di Depkes. Tapi Depkes sendiri tidak bisa memeriksa, apakah ini benar, bagus, kurang bagus, dan lainnya. Akhirnya mereka suru buat surat ke Menteri Kesehatan. Surat saya mendapat jawaban, bahwa sementara ini mereka baru bisa hanya untuk regulatornya saja. Jadi hanya alatnya saja. Sementara sistemnya mereka belum bisa. Akhirnya produk ini saya bawa ke LIPI dan diteliti di sana. Pada 2008, produk saya mendapatkan sertifikat dari LIPI. Produk ini juga sebelumnya sudah saya dapatkan Hak Paten Merek-nya.

Lantas, sejauh ini, apakah sudah pernah ada komplain dari pihak RS terhadap produk Anda?
Setiap RS kan harus diakreditasi. Dan sejauh produk saya digunakan di sana, tidak pernah ada masalah. Jadi sudah bisa diterimalah – Depkes sendiri belum bisa memberikan sertifikat terhadap produk seperti ini.

Berarti produk Anda sudah bisa diterima. Apa saja keunggulan atau kelebihannya?
Prinsipnya, produk kami ini aman dan nyaman bagi para petugas (operator, anastesi, perawat), maupun bagi para pasien. Biayanya pun lebih efektif dan efisien, baik dalam pemakaian maupun perawatannya. Dan tentunya steril, serta dengan Ultra Clean, dapat meningkatkan efisiensi, dan efektifitas.

Sebenarnya, apa detail pekerjaan yang Anda lakukan di RS?
Kalau basic di RS ada empat jenis instalasi gas, yakni mencakup Sistem Oksigen (O2); Vacuum (VAC)-untuk menyedot cairan, dan lainnya; Medical Compressed Air (Air)-salah satu fungsinya menjalankan mesin bantu pernapasan; dan Nitrous Oxide (N20)-untuk menjalankan mesin anastesi. Dan semua ini akan berpusat pada sebuah sitem yang dinamakan sentral. Seperti oksigen, ada sentral dari luar yang mengirim gas ke oksigen, atau dari tabung. Prinsipnya, suplai gas tidak boleh berhenti, harus terus berjalan 24 jam. Nah, di sentral ini menggunakan mesin-mesin dan peralatan yang saya rakit sendiri, baik melalui filter, dan sebagainya. Misalnya, mesinnya datangkan dari Jerman atau Jepang, saya rakit di sini, campur dengan filter, tangki, dan lainnya. Selanjutnya dialirkan melalui pipa-pipa khusus yang kebanyakan terbuat dari tembaga.
Bagian pekerjaan/intalasi mana yang membutuhkan ketelitian lebih tinggi?
Semuanya sama. Ini kan untuk kebutuhan manusia, apalagi berkaitan dengan nyawa seseorang. Jadi pastinya semua lini kerja membutuhkan ketelitian yang sangat tinggi.

Butuh waktu berapa lama untuk menyelesaikan sebuah proyek IGM?
Tergantung besarnya RS atau ruangan yang akan dipasang instalasi tersebut. Dan bisanya juga kita ikuti progress pembangunan dari RS tersebut. Tapi rata-rata yang saya kerjakan antara 3 sampai 4 bulan.

Bisa disebutkan beberapa RS yang pernah Anda tangani?
Sudah cukup banyak, seperti RS Husada, RSCM, RS Gading Pluit, RS Islam Cempaka Putih, RS Kanker Darmais, RS Harapan Kita, dan beberapa lainnya.

Melayani RS luar Jakarta atau Pulau Jawa?
Justru lebih banyak di luar Jakarta. Apalagi sekarang sepertinya sedang menjadi tren, terutama daerah-daerah untuk melayani masyarakat dengan membangun RS yang lengkap dengan fasilitasnya. Seperti beberapa tempat di Kaliantan Timur, dan lainnya. Terakhir saya kerjakan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr.H.M.Ansyari Saleh di Kalimantan Selatan. Saya bikinkan dia kamar operasi yang lengkap sekali. Termasuk juga di RSUD Ulin di daerah yang sama dan RS swasta milik susteran SPC Filipina di Banjarmasin, RS Suaka Insan.

Tadi Anda katakan, produk Anda lebih ekonomis dan efisien dibanding produk impor. Bisa dijelaskan?
Jika kami yang mengerjakan IGM, maka untuk satu RS dengan 100 tempat tidur, biayanya tidak sampai Rp2 miliar. Biaya ini tentu sangat jauh berbeda dengan produk-produk impor.

Berarti Anda pun juga turut mengedukasi pihak RS terkait soulsi praktis dan lebih terjangkau ini?
Saya memberikan penjelasan ke pihak RS, kenapa Anda harus pesan oksigen dari luar? Bahan baku kan gratis! Asal punya mesin dan peralatannya saja. Jadi tidak usah beli oksigen lagi. Saya jamin dua tahun kembali lagi. Untuk selanjutnya, tidak perlu lagi beli oksigen. Atau misalnya untuk tabung gas ukuran 6 kubik yang biasanya kalau isi dari luar dengan biaya Rp100 ribu, tapi kalau punya mesinnya sendiri, maka biayanya hanya dengan Rp20 ribu saja. Kalau mereka pesan dari Jepang, harganya empat kali lipat. Jadi kan lima kali lipat. Itu yang terus saya sampikan kepada mereka.

Apakah ada inovasi lain yang juga sedang Anda kembangkan?
Sekarang saya juga mulai kembangkan berbagai kelengkapan lainnya untuk kamar operasi. Misalnya kelengkapan untuk cuci tangan dokter, sebelum dan setelah operasi. Banyak yang masih gunakan alat dari luar negeri yang harganya mahal sekali. Sekarang saya kembangkan sendiri. Sudah banyak pengrajin di Indonesia yang pintar. Apapun model yang saya berikan, bisa dia kerjakan. Saya bikin instalasinya saja. Untuk steriliasasinya bisa gunakan lampu UV. Jadi bisa lebih murah hingga 50 persen. Inilah sebenarnya yang ingin saya kenalkan kepada RS. Seperti yang saya pasang beberapa di RS Islam. Kalau dia pesan dari luar, mungkin sekitar Rp100 juta labih hanya untuk cuci tangan tersebut. Produk saya (Ultra Clean), tidak sampai setengahnya.

Dari pengalaman Anda, apakah masih ada RS yang minder atau ngengsi terhadap produk lokal?
Sekarang sangat sulit ya. Karena perbedaan harga sudah terlalu jauh. Seperti misalnya di salah satu RS di Kalimantan, dari enam kamar operasi hanya satu yang masih menggunakan produk dari Jepang. Yang lain sudah menggunakan produk lokal.

Lantas apa harapan terbesar Anda terkait bidang IGM ini?
Saya ingin begini, kalau kita sendiri bisa mengembangkan dan menciptakan produk-produk yang berkualitas, kenapa harus impor. Jadi kita harus mencintai produk lokal. Dan yang terpenting adalah bagaimana pasien tersebut bisa mendapatkan pelayanan maksimal dan juga dengan harga yang benar-benar reasonable.

Kabarnya Anda juga mendirikan Asosiasi Instalasi Gas Medik Indonesia. Apa fungsi dan perannya?
Sebenarnya ini masih berkaitan dengan perusahaan besar yang tadi saya sampaikan. Perusahaan ini kan tadinya BUMN namun sekarang swasta, dia punya pabrik gas sendiri. Menurut saya, ada pelanggaran etik yang dilakukan oleh perusahaan ini. Ia melanggar peraturan dari Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

Maksudnya?
Jadi, perusahaan tersebut punya pabrik gas oksigen sendiri. Dialah yang mensuplai ke berbagai RS. Nah, karena dia yang menyuplai ke RS, maka instalasi di dalam RS pun maunya mereka yang mengerjakannya sendiri. Kalau begini, lalu bagaimana dengan nasib perusahaan-perusahaan kecil? Cntohnya seperti PLN yang mensuplai listrik. Istalasinya kan dikerjakan oleh perusahaan lain. Nah, dengan adanya kasus seperti ini, maka lahirlah Asosiasi Instalasi Gas Medik Indonesia (AIGMI). Ini adalah wadah berkumpulnya perusahaan Instalasi Gas Medik & Alat Kesehatan di Indonesia. Dan teman-teman di asosiasi ini kebanyakan adalah pensiunan dari perusahaan tersebut. Kami sama-sama berjuang untuk memberikan keadilan terhadap perusahaan-perusahaan kecil. Sekarang, anggota AIGMI sudah sekitar 40an, tidak termasuk perusahaan besar itu, sepertinya mereka belum mau bergabung. [pius klobor/IndoTrading News]

Baca juga:



nanomag

Mereka akan selalu mengenangmu melalui karya yang menginspirasi dan tak berkesudahan


0 thoughts on “Bunarto dan Temuannya untuk Instalasi Gas Medis RS yang Efisien dan Reasonable (2)