BREAKING NEWS
Search

Arief Widhiyasa, “Drop Out” Demi Game, Kini CEO

Arief Widhiyasa (Foto: detik.com)
Demam game sejak TK, mimpi Arief pun terwujud. Kini, bersama Agate, lebih dari 100 game telah mereka karyakan hingga ke pasar internasional.

Sebagai orang tua, tentu Anda akan lebih memilih untuk menyuruh anak Anda belajar atau mengerjakan PR, daripada bermain game. Namun apa jadinya jika anak Anda justru lebih memilih pada game? Dan parahnya lagi, gara-gara game, ia malah meninggalkan pendidikannya.

Arief Widhiyasa adalah penggemar game tulen yang sejak belia sudah menyukai permainan ketangkasan dan kecekatan tersebut. Malah waktu seharian bisa ia habiskan hanya dengan bermain game saja. Kebiasaan bermain yang mungkin masih dinilai buruk oleh banyak orang tua ini, ternyata terjawab dengan keberhasilannya bersama Agate menjadi salah satu developer game lokal yang mempu menembus pasar internasional.

“Awalnya orang tua melarang. Tapi pada akhirnya mereka mengijinkan bermain game, bahkan 8-12 jam saya habiskan dengan game, asal ranking di sekolah bagus. Dan kebetulan bagus, sehingga saya bisa bermain game terus,” katanya dalam acara talk show Kick Andy pada pertengahan Januari 2014 ini.

Arief dan game memang tak terpisahkan. Dan ini terus berlanjut hingga di bangku kuliah. Pendidikan yang ia tempuh di jurusan Informatika, Institut Teknologi Bandung (ITB) pun ditinggalkannya.

“Saya memilih untuk drop out,” ujarnya.

Pria kelahiran Denpasar, 4 April 1987 ini pun memilih untuk terjun langsung ke dunia nyata. Menjajaki industri game sebagaimana yang ia impikan. Bersama 18 temannya, pada 1 April 2009, mereka mendirikan sebuah usaha berbasis kreatifitas yang kemudian dinamakan “Agate Studio” di Bandung. Usaha ini didirikan dengan satu tujuan, yakni ingin membahagiakan dunia.

Arief yang cukup dominan di usaha tersebut pun akhirnya ditunjuk untuk menahkodai Agate sebagai Chief Executive Officer (CEO). Sebagai CEO dan di usia yang sangat mudah, Arief pun tak besar kepala. Bersama rekan-rekannya mereka terus berkreativitas dan berinovasi menciptakan berbagai jenis game.

Pundi-pundi rupiah pun masuk ke kantong Agate berkat karya mereka yang terus booming. Sebut saja, “English Defind” dan “Football Saga” yang sudah cukup terkenal hingga ke luar negeri. Belum lagi beberapa kerja sama yang dilakukan dengan perusahaan game dari luar negeri, seperti dari Jepang untuk membuat game simulasi perang berbasis web, “Sengoku Ixa”.

Ia mengakui, untuk mendapatkan pemasukan dari industri game tidaklah sesukar yang dipikirkan. Agate memproduksi dua jenis game, yakni serius game dan entertainment game. Menurutnya, serius game lebih disupport kepada perusahaan-perusahaan atau instansi sebagai bentuk dan cara lain untuk memahami sesuatu kasus/kejadian.

Misalnya game kebakaran. Melalui permainan tersebut, seseorang akan lebih mudah memahami dan akhirnya mengetahui tindakan atau langkah terbaik yang harus ia ambil ketika kebakaran benar-benar terjadi.

Sementara entertainment game, sebagaimana game pada umumnya, Arief melanjutkan, bisa didapatkan, baik untuk aplikasi komputer (PC) dan mobile dengan cara diunduh dari internet/website. Semua game tersebut bisa didapatkan secara gratis.

“Market kami lebih fokus di Indonesia, sehingga game harus gratis. Hanya ada fitur-fitur tambahan tertentu yang harus dibayar baru bisa mendapatkannya,” ungkap pria asal Singaraja, Bali ini.

“Untuk pasar Indonesia saat ini, game yang paling poluler adalah “Football Saga” dan Sengoku Ixa,” lanjutnya.

Sementara untuk pasar internasional pun cukup menjanjikan bagi industri game Agate tersebut, apalagi beberapa perusahaan asing yang mulai bekerja sama. Hal ini juga ditandai dengan berbagai apresiasi dari dunia interasional yang sudah mereka terima. Beberapa di antaranya adalah People Choice Award Flash Gaming Summit 2010 San Fransisco March 2010 Most Growth Company (Revenue & Profit) ~ Action Coach Business Coaching April 2010 Indigo Fellowship Winner December 2010 1st Winner Teknopreneur Award (StartUp Category) December 2010 Win 2 Top Awards in IMULAI 3.0 by Microsoft & USAID April 2011.

Kini, Agate yang didirikan oleh 18 pemuda kreatif tersebut telah menjadi salah satu Studio Game terbesar di tanah air. Perusahaan yang mengusung moto “Live the fun way” ini pun telah mempekerjakan lebih dari 75 orang dan siap merajai dunia dengan terus menebar “kebahagiaan” kepada penggemarnya. [Ama/IndoTrading News]


TAG

nanomag

Mereka akan selalu mengenangmu melalui karya yang menginspirasi dan tak berkesudahan


0 thoughts on “Arief Widhiyasa, “Drop Out” Demi Game, Kini CEO