BREAKING NEWS
Search

Kisah Hironimus Pala yang Sukses Berdayakan Petani Kampung

Dalam sebuah catatannya, akademisi dan praktisi bisnis, Rhenald Kasali, mengatakan, “banyak orang berpikir muluk-muluk untuk melakukan perubahan. Faktanya, hanya orang-orang yang sederhana atau mampu menyederhanakan pikirannya sajalah yang mampu melakukan perubahan.” Ini pula yang berhasil dilakukan Hironimus Pala. Petani sederhana asal Ende, Flores, NTT ini mampu mengubah mindset banyak orang akan petani yang dilabeli orang miskin dan bodoh menjadi petani kreatif yang mempu membawa perubahan signifikan pada diri, keluarga, dan lingkungan sekitarnya.

Pria kelahiran 9 November 1965, penerima penghargaan Kusala dari Yayasan Bina Swadaya ini mengaku bangga bisa memberikan lebih dari sekadar rutinitas petani dengan kegiatan bercocok tanamnya. Derajat dan ekonomi petani menjadi lebih baik, lebih dari itu, budaya patriarka yang menomor duakan perempuan pun berhasil digebraknya. Lantas, bagaimana awal mula dan suka duka Hironimus menjalankan kegiatan sosial tersebut? Berikut penuturan lengkap Hironimus yang berhasil dihimpiun IndoTrading News.

Bagaimana Anda memulai kegiatan tersebut?

Saya juga berasal dari keluarga petani miskin sehingga saya merasakan betapa petani sering diangap remeh, bahkan dilabeli orang bodoh, dan pekerja kotor. Kehidupan petani di kampung juga serba sulit, sarana transportasi yang sulit, air minum bersih yang sulit didapatkan, dan banyak persoalan sosial lainnya, seperti masalah gizi buruk, buta huruf, dan sebagainya. Selain itu, juga berangkat dari keinginan saya untuk mengubah pola atau kebiasaan bercocok tanam yang sering berpindah kebun dengan membakar hutan, dan lebih lagi, adanya budaya patriarka yang menomor duakan perempuan. Dari situ saya terpanggil untuk mengabdi.

Lantas apa kegiatan Anda sebelum menjadi faslitator bagi masyarakat dan petani?

Saya pernah mengajar di SDK Welamosa dan SMPK Pertanian Emanuel Mautenda, Ende, Flores, NTT. Saya juga pernah mencoba berwiraswasta, sebagai petani sayur selama 1,5 tahun. Bahkan pernah menjadi tenaga teknis pembuatan badan jalan. Suatu waktu, akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke kampung halaman dan mendampingi para petani di sana.
Kelompok apa saja yang Anda dampingi?

Saat ini saya masih aktif mendampingi lebih dari 20 kelompok, khususnya di Ende, Flores, NTT. Beberapa kelompok yang berhasil saya dampingi, diantaranya Kelompok Sinar Harapan di Desa Wonda, Kecamatan Ndori, sejak 24 Mei 1984. Di sana, awalnya ada 11 KK (kepala keluarga) yang hanya kerja musiman. Kami masuk dan membantu anggota jika mengalami kesulitan sampai, hingga tahun 1993. Pada tahun 1994, kami menargetkan kelompok ini harus mempunyai modal sendiri. Atas kesepakatan anggota, maka melalui hasil kerja bergilir mereka menyisihkan uang Rp 1.000 untuk dikumpulkan dan digunakan apabila ada anggota yang membutuhkan melalui pinjaman. Tahun 1995 atas kesepakatan bersama, mereka mendirikan usaha simpan pinjam, dan jumlah anggota menjadi bertambah 34 orang. Tahun 2009 kelompok Sinar Harapan meraih juara 1, mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten, hingga tingkat provinsi dalam hal “Kemampuan Kelompok Tani & Nelayan”. Dan tahun 2011 kelompok ini membentuk koperasi Tani Sinar Harapan dengan jenis usaha simpan pinjam, usaha pertanian, usaha pembayaran listrik dan arisan anggota. Dampak dari adanya kelompok ini adalah semakin banyak masyarakat yang tertarik untuk menjadi anggota. Bahkan kegiatan usaha simpan pinjam kelompok ditiru oleh kelompok lain. Ketrampilan sambung samping, sambung pucuk di adopsi oleh masyarakat lain antar dusun dan desa.

Selain kelompok tani, saya juga pernah mendampingi kelompok Dasa Wisma MAWAR sejak tahun 2007 yang awalnya beranggotakan 20 orang. Kelompok ini bertujuan untuk membantu anggota, dalam hal pengadaan alat dapur. Selain itu juga membantu keuangan para anggota, kegiatan simpan pinjam, dan jimpitan. Kelompok ini bahkan pernah juga mewakili kecamatan dalam lomba pangan lokal dalam rangka Hari Pangan, juga pernah meraih juara 2 lomba jambore POSYANDU tingkat kabupaten. Pernah juga mewakili petani perempuan dampingan YTNF dalam kunjungan belajar ke Filipina, menjadi tempat belajar dari pihak lain, seperti dari Timor Leste. Kelompok ini selalu memprakarsai pengembangan pangan lokal dan pengolahan hasil pangan lokal menjadi makanan bergizi dan menjadi makanan tambahan untuk seluruh balita di daerahnya sehingga menarik daerah lain untuk berkunjung dan belajar dari kelompok ini.
Beberapa contoh produk yang dihasilkan oleh para petani dan perajin binaan Hironimus
Apa yang Anda lakukan dalam setiap kegiatan pendampingan tersebut?

Dalam pendampingan tersebut yang ditekankan adalah pengembangan masyarakat dalam bidang pertanian berkelanjutan, kesehatan, lingkungan hidup dan ekonomi keluarga. Jadi banyak hal yang saya lakukan, termasuk memotivasi masyarakat untuk ramah lingkungan dengan konservasi lahan kering melalui penanaman kakao, kopi, dan tanaman herbal. Dan pendampingan yang diberikan tidak hanya fokus untuk anggota kelompok saja, tetapi juga orang di luar kelompok sehingga masyarakat mendapatkan informasi yang sama seperti koperasi, pertanian dan kesehatan. Penyebaran informasi antar desa melalui rapat koordinasi kecamatan yang dilakukan setiap bulan, disamping untuk wadah/forum saling sharing juga menciptakan motivasi, dorongan dari desa-desa yang mempunyai hasil dan program-program yang lebih baik dan sumber daya yang juga lebih meningkat.

Lalu bagaimana tanggapan dari masyarakat setempat, terutama anggota kelompok-kelompok itu?

Mereka sangat antusias mengikuti berbagai kegiatan yang kami berikan. 12 Kelompok telah aktif melakukan perencanaan usaha sendiri. Bahkan ada lima kelompok yang menjadi tempat tujuan studi banding oleh kelompok lain dari luar daerah sejak, tahun 2000 lalu. Jadi sekarang pendampingan hanya kamilakukan tiga kali sebulan dalam satu kelompok. Di setiap desa atau kelompok sudah ada asisten pendamping lapangan yang bisa memfasilitasi kegiatan bersama kelompok. Oleh karena itu, dalam tahap ini saya hanya melakukan supervisi, evaluasi dan monitoring terhadap kegiatan yang sudah direncanakan oleh kelompok. Dan untuk menambah pengetahuan, kami juga sering menggali berbagai informasi melalui internet, serta mulai membuka akses dan jaringan dengan para ahli.
Pertanian kakao adalah salah satu kegiatan pendampingan yang dilakukan Hironimus bersama kelompoknya
Sekian lama memberikan pendampingan, apa yang sudah mereka dapat/hasilkan?

Anggota kelompok yang dari hanya sekadar kerja bergilir untuk membantu sesama anggota, berlanjut pada usaha produktif seperti simpan pinjam, dan berkembang menjadi koperasi. Mereka juga belajar peremajaan dan produksi kakao dengan melakukan metode sambung samping dan sambung pucuk, sampai pada panen kakao. Dari koperasi inilah anggota mempunyai modal untuk mengembangkan usahanya, anggota bisa mengakses koperasi untuk mendapatkan modal yang dibutuhkan. Selain itu melalui koperasi mereka meningkat pengetahuan dan ketrampilannya. Dan dari semua itu, mereka bisa menghasilkan berbagai macam produk, seperti pasta cokelat, kopi bubuk, cokelat bubuk, produk herbal, dan lainnya.
Saya sebagai fasilitator yang mendampingi mereka tetunya bangga. Dengan adanya kegiatan ini, para petani yang tadinya tidak memiliki usaha tanaman komoditi, sekarang malah sudah bisa panen komoditi pertanian, seperti kakao, kopi. Lebih dari itu, mereka juga tentu sudah mendapatkan dan merasakan manfaat ekonomi. Dari penjualan hasil pertanian tersebut, mereka bisa gunakan untuk membiayai sekolah anak-anaknya hingga SLTA dan perguruan tinggi, dan bahkan sudah bisa punya rumah sendiri.

Konkritnya, apa dampak langsung yang mereka dapatkan?

Jelasnya ekonomi keluarga sagat terbantu. Anak-anak petani banyak yang bisa bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi berkat hasil panen yang sangat bagus; rumah-rumah petani juga mulai bagus dan bahkan 40% lebih yang sudah memiliki parabola (antenna TV); tabungan mereka di koperasi yang semakin banyak. Lebih lagi, para petani pun bisa menjadi pelatih/fasilitator teknologi pertanian lahan kering di desa/kabupaten lain; banyak masyarakat/kelompok dari luar daerah datang dan belajar pada kelompok tersebut; serta masih banyak hal positif lain yang mereka dapatkan dari pendampingan kami ini.

Bagaimana suka-dukanya mendampingi masyarakat yang notabene berpengetahuan terbatas?

Tentunya kami sangat bangga ketika berbagai kegiatan maupun program yang diberikan dapat diterima dan berjalan dengan lancar. Apalagi jika para petani atau anggota kelompok tersebut bisa berjalan sendiri dan mengelola kelompoknya serta meraih berbagai hasil positif. Tentu ini menjadi kebanggan dan kepuasan bagi kami. Namun tak dipungkiri bahwa dengan berbagai keterbatasan, seperti modal, dan sarana lainnya, tentu kegiatan kami ini juga sering tersendat. Terkadang, ada juga petani yang masih menjual sendiri hasil komoditinya, tanpa melalui koperasi, dan berbagai masalah lainnya. Namun kami tetap berjalan dengan komitmen untuk terus membantu para petani tersebut. Dan hasilnya sangat memuaskan.

Anda jugalah yang berkontribusi besar atas berdirinya Yayasan Tananua Flores. Bisa dijelaskan soal Yayasan tersebut?

Yayasan ini juga bisa disebut sebagai sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dalam pemberdayaan masyarakat. Pola pendekatan yang kami lakukan, yakni “anak minta ikan tidak meberi ikan maupun kail, tetapi duduk dan belajar bersama anak”. Jadi bagaimana membuat kail yang baik dan memancing yang baik. Pada Juni 2010, Yayasan Tananua Flores melakukan serangkaian kegiatan bersama masyarakat tani pedesaan dalam rangka membangun kembali rasa percaya diri petani. Kegiatan yang kami lakukan berupa: pertemuan semesteran petani (Pertanian dan Kesehatan); pelatihan gender; pelatihan pengolahan makanan lokal; pelatihan managemen kakao; budidaya, P3S (Pemupukan, pemangkasan, panen sering dan sanitasi) dan pemasaran bersama. Beberapa pelatihan lainnya, seperti pelatihan managemen UBSP dan Bisnis Plan; pelatihan penulisan Proposal; juga pelatihan software keuangan bagi pengelolah keuangan Yayasan Tananua Flores.
Hironimus Pala, Pemenang Kusala Swadaya 2013, Kategori Fasilitator/Pendamping (Foto: Pius)
Anda adalah penerima Kusala Swada 2013. Apa yang Anda rasakan?

Sangat bangga akan pencapaian kami selama ini. Kami hanya orang kampung yang bekerja tulus membantu masyarakat untuk lebih berdaya guna, lebih produktif dari sebelumnya. Penghargaan ini menjadi motivasi dan pendorong semangat untuk lebih giat lagi mendampingi masyarakat dan para petani. Saya harap, penghargaan ini juga menjadi pemicu dan dapat memotivasi masyarakat lainnya untuk juga sama-sama mendampingi dan memfasilitasi petani di kampung-kampung untuk lebih maju.

Anda juga mendapatkan sejumlah uang dari penghargaan tersebut. Apa yang akan Anda lakukan?

Uang tersebut akan kami gunakan untuk mengembangkan kegiatan kami dengan melengkapi beberapa peralatan yang belum kami miliki. Dengan begitu, kami juga berharap agar semakin banyak orang yang menikmati dan merasakan manfaat positif dari berbagai kegiatan yang kami lakukan. [pius klobor/IdoTrading News]


Baca Juga:





TAG

nanomag

Mereka akan selalu mengenangmu melalui karya yang menginspirasi dan tak berkesudahan


1 thought on “Kisah Hironimus Pala yang Sukses Berdayakan Petani Kampung