BREAKING NEWS
Search

Dari Daur Ulang Kertas, Neza Bangkitkan Semangat Anak Jalanan

Beragam produk yang terbuat dari hasil daur ulang kertas dan gedebong pisang (Foto: Patrisia)
Nezatullah Ramadhan adalah wirausahwan muda yang mengembangan usaha dan memproduksi berbagai produk ramah lingkungan. Ia memanfaatkan kertas bekas untuk memproduksi berbagai aksesori dan produk fungsional lainnya. Neza kemudian berinovasi memanfaatkan juga gedebog pisang untuk semakin memberikan kesan natural dan unik serta menjadikan produk-produk tersebut lebih berkualitas.

Kini, usaha yang dimulai dari modal pinjaman tersebut telah memiliki sebuah yayasan dan rumah singgah bagi anak-anak jalanan dan yang kurang mampu. Apa yang dilakukan di rumah singgah tersebut? Lalu bagaimana dengan usaha kreatifnya? Berikut penuturan Neza dan sahabatnya Dian Karen kepada Pius Klobor dari IndoTrading News, beberapa waktu lalu.

Bagaimana Anda memulai usaha ini?
Dulu saya megikuti Program Mahasiswa Wirausaha di Kampus Politeknik Negeri Jakarta. Kebetulan yang saya pelajari adalah mengolah dan mendaur ulang kertas bekas dan limbah organik. Setelah itu, pada awal 2012 saya memulai usaha ini. Saya mendapatkan modal pinjaman dari kampus dengan jaminan ijasah. Pada akhir Januari 2013 kami mendirikan Yayasan Nara Kreatif untuk sekaligus menaungi usaha kami ini. Dan pada April 2013 kami menjadi mitra binaan BNI Syariah.

Lantas apa yang meletarbelakangi Anda terjun ke bisnis daur ulang ini?
Prinsip saya dengan teman-teman tidak ingin segmen kegiatan kami terbatas. Kalau kita bicara soal kertas bekas kan hampir semua intansi atau kantor, bahan rumah pun punya kertas bekas, jadi tidak terbatas. Berikutnya, go green ini kan gencar dicanangkan pemerintah. Di satu sisi, segmen pemasaran produk kami sangat luas, sisi lainnya, produk ramah lingkungan.

Lalu apa saja produk-produk yang Anda produksi?
Seorang anak mencacah batang pisang
Kami klasifikasikan dalam beberapa kelompok, seperti recycle paper, itu dari bahan-bahan limbah kertas dan khususnya gedebong pisang atau bahan organik yang mempunyai serat. Jadi produk-produk recycle paper ini lebih ditekankan pada nilai seninya. Di sini, kami kombinasikan juga dengan unsur dan teknik lain, seperti membatik dan lainnya. Jadi bagaimana caranya kami lakukan agar produk tersebut tidak terkesan monoton dan membosankan. Kami juga punya paper bag, packaging, certificate/piagam, dan invitation, seperti undangan acara, pernikahan, dan lainnya. Ada juga produk ramah lainnya, seperti accessories, souvenir, stationery, dan fashion, seperti tas-tas unik. Pada intinya semua membutuhkan seni dan keterampilan saat membuatnya.

Adakah inovasi yang terbaru?
Alhamdulillah sekarang kami sudah bisa membuat wallpaper dari bahan daur ulang kertas yang kami kombinasikan dengan batang pisang. Pada awalnya kami tidak berani, tapi berkat bantuan dosen saya untuk memasang wallpaper di ruangan kerjanya, maka kami mulai mencoba. Nah di sinilah titik awal kami melakukan inovasi produk baru ini. Hingga sekarang kami sudah bisa membuat wallpaper dengan berbagai motif, seperti dedaunan, maupun batik. Dan tidak hanya itu, kami pun bisa menerima pesanan untuk berbagai produk lainnya. Jelasnya, semua produk kami adalah produk ramah lingkungan yang terbuat dari daur ulang kertas bekas dan gedebong pisang.

Sebenarnya, apa yang menjadi keunggulan produk daur ulang tersebut?
Proses membuat lembaran kertas
Pertama, daya serapnya jauh lebih lama dibandingkan dengan kertas biasa. Jadi tentu jauh lebih kuat dari kertas biasa. Kedua, pastinya kertas daur ulang ini tidak dijual secara masal. Produk kami khas dan unik. Keunggulan lainnya, cost produksi rendah; dan bahan baku bisa dengan mudah kami dapatkan di mana-mana. Dan yang terutama juga adalah kami melihat bahwa usaha semacam ini pun lebih mudah untuk bisa disehringkan kepada orang lain, terutama anak-anak putus sekolah untuk dapat beraktivitas dan berkreasi sendiri. Sehingga kelak mereka pun bisa mandiri.

Bisakah Anda jelaskan proses membuat produk ramah lingkungan tersebut?
Gedebong pisang kami cacah dan jemur hingga kering. Jika musim kemarau bisa satu minggu, musim hujan hingga 10 hari. Sesudah kering, direbus dan rendam selama 1 hari hingga lunak. Selanjutnya dicampur dengan kertas yang sudah dibuburkan terlebih dahulu, baru kami proses ke belender. Setelah itu, baru diproseskan menjadi lembaran-lembaran kertas berserat. Jadi dari bahan baku hingga menjadi kertas, kurang lebih membutuhkan waktu antara 12-13 hari. Kertas yang kami buat berukuran A1 dan A2, standar kami A2. Namun untuk wallpaper A1. Sementara untuk ketebalannya tergantung pada jenis produk yang akan kita buat.

Kenapa sehingga Anda kombinasikan kertas bekas dengan batang pisang?
Pada prinsipnya, kertas bekas didaur ulang menjadi kertas dan dijadikan berbagai produk, itu bisa saja. Tetapi, kertas yang hanya berbahan kertas, rapuh. Itulah kenapa kita campurkan dengan gedebong pisang. Dimana, gedebong pisang memiliki serat yang akan membuat bahannya semakin kuat. Dengan begitu, kertas akan terlihat lebih unik karena serat dan teksturnya akan terlihat lebih jelas, jadi akan terkesan lebih alami dan lebih berkualitas.

Berapa perbandingan campuran antara kertas dan gedebong pisang?
Ini tergantung permintaan konsumen. Jadi jika konsumen menginginkan seratnya lebih terlihat, maka akan kami perbanyak gedebong pisangnya. Jika gedebong pisang semakin banyak, maka kualitas bahan semakin kuat, namun di satu sisi akan pula terlihat kertasnya lebih kasar.

Adakah bahan lain untuk membuat produk tersebut?
Beberapa anak sementara meyelesaiakn produk wallpaper
Pastinya bahan pewarnaan, lem, dan beberapa lainnya.

Berapa range harga produk Anda?
Dari Rp 2.500 seperti amplop, hingga Rp 750 ribu untuk box wedding. Lebih banyak memang kisaran hingga Rp 50 ribu. Produk dengan harga di atas Rp 100 ribu sudah tergolong produk exclusive.

Kabarnya yayasan Anda juga memfasilitasi anak-anak kurang mampu, sejak kapan?
Mulai pertengahan tahun ini. Namun sebenarnya sudah kami rencanakan sejak lama. Hanya saja saat itu tempat usaha kami hanya rumah petak berukuran 3 meter. Nah sekarang ini kan sudah lebih luas, sehingga kami bisa melaksanakan rencana kami itu.

Apa saja yang dilakukan di yayasan atay rumah singgah ini?
Di sini kami punya anak binaan, dimana seluruh operasional anak-anak tersebut kami yang tanggung. Mulai dari biaya hidup, pendidikan, dan lainnya. Di sini juga kami punya warga belajar. Jadi masyarakat sekitar yang ingin melanjutkan sekolah atau yang tidak pernah sekolah, kami yang fasilitasi mereka. Mulai dari tenaga pengajar, bahan belajar, hingga mereka lulus dan mendapatkan ijasah pun kami tidak memungut sepeser biaya pun. Semua pembiayaan tersebut kami alokasikan dari hasil penjualan produk. Memang sebenarnya masih belum cukup dari hasil penjualan produk saja, namun kami tetap berusaha untuk mewujudkan semua itu.

Ada program lainnya?
Kami juga punya program pendidikan agama Islam, seperti belajar cepat baca Alquran.
Salah satu aktivitas pendidikan di Rumah Singga Nara Kreatif (Foto: Patrisia)
Lalu bagaimana pembagian aktivitas, termasuk dengan porsi pengembangan usaha ini?
Pagi hingga siang kami gunakan untuk aktivitas ekonomi, yakni keterampilan dan keahlian daur ulang. Sementara malam hari untuk kegiatan pendidikan.

Bagaimana perjalanan usaha sosial ini?
Sejak kami mendapatkan bantuan dari BNI Syariah, akhirnya kami bisa menyewa rumah yang lebih besar. Dengan begitu tidak hanya aktivitas bisnis yang kami jalankan di rumah ini, tapi juga adalah membagi kepada orang lain yang membutuhkan, seperti kegiatan sosial, pendidikan dan sebagainya. Dukungan dari BNI Syariah tidak hanya berupa dana CSR, tapi juga berupa kertas bekas.

Apakah semua peserta yang belajar di sini juga membantu daur ulang?
Tidak semuanya. Tapi memang, mereka itu kami masukan juga ke kelas keterampilan. Karena rencana dari Yayasan Nara Kreatif yang sesuai dengan spirit kami “selalu hidup memudahkan”, yang mana tujuan akhir kami yaitu bisa meringankan semua permasalahan. Syukur-syukur bisa terselesaikan.

Sejauh ini, Apa saja kendala dan hambatan pengembangan usaha Anda?
Usaha kami ini belum ter-publish, sehingga belum banyak yang tahu soal berbagai produk kami tersebut. Sebenarnya produk kami ini sendiri tidak hanya dibutuhkan oleh masyarakat umum, seperti untuk pernikahan dan lainnya, tapi juga oleh instansi ataupun kantor. Selain itu, kami juga terhambat soal dana. Kami juga masih kesulitan dalam pemasaran produk kami. Mungkin karena belum banyak yang tahu soal keberadaan produk kami ini.
Produk-produk ramah lingkungan hasil daur ulang kertas bekas dan gedebong pisang (Foto: Patrisia)
Apa harapan Anda ke depannya?
Tentunya kami sangat ingin agar produk kami menjadi pilihan masyarakat, olehkarena produk yang ramah lingkungan dan aman digunakan. Paling tidak jika banyak kantor atau instansi yang pesan kartu nama saja, itu sudah sangat baik bagi pengembangan usaha kami. Lebih dari itu, kami ingin supaya lebih banyak orang yang belajar dan mengembangkan kreativitasnya di rumah singgah, yayasan kami ini. [pius klobor/IndoTrading News]



nanomag

Mereka akan selalu mengenangmu melalui karya yang menginspirasi dan tak berkesudahan


0 thoughts on “Dari Daur Ulang Kertas, Neza Bangkitkan Semangat Anak Jalanan