BREAKING NEWS
Search

Batang Pisang pun Jadi Beragam Produk Benilai Tinggi

Batang pisang boleh jadi hanya seonggok sampah yang dibiarkan begitu saja, ketika buahnya telah dipanen. Banyak orang tak mengira, ternyata dari batang pisang bisa dijadikan sebagai bahan baku untuk pembuatan sejumlah produk yang unik dan mengandung unsur seni tinggi.

Tengok saja sejumlah anak mudah di bilangan Kramat Jati, Jakarta Timur ini. Memanfaatkan batang pisang, mereka mampu memproduksi berbagai produk menarik, bernilai jual tinggi yang tak pernah disangka.

Usaha ini berawal ketika Nezatullah Ramadhan, pemuda yang baru menyelesaikan pendidikannya di Politeknik Negeri Jakarta ini ikut serta dalam Program Mahasiswa Wirausaha di kampusnya. Lulus mengikuti program tersebut, ia dimodali beberapa belas juta dengan jaminan ijazahnya untuk kemudian memulai usaha sendiri. Bersama Dian Karen, sahabat SMA-nya, Neza kemudian mulai menjalankan usaha tersebut pada awal 2012 lalu.

“Pada awalnya hanya keterampilan dan keahlian mengolah limbah kertas dan organik,” kata Neza, memulai ceritanya kepada IndoTrading News yang menyambangi tempat usahanya.

Kertas-kertas hasil daur ulang tersebut pun dikreasikan menjadi beragam produk yang unik. Namun, Neza belum puas akan kreasinya tersebut. Ia pun berinovasi, mengkombinasikan bubur kertas dengan serat halus gedebog pisang. Alasan masuk akal, serat gedebog pisang tersebut ternyata menjadikan produk lebih kuat dan bentuk/teksturnya pun menjadi lebih unik dan menarik.

Alhasil, beragam produk unik pun dihasilkan dari kreativitas pemuda kelahiran Padang 8 April 1991 ini. Bersama rekannya mereka memproduksi beragam produk unik dan menarik, seperti recycle paper, paper bag, packaging, certificate/piagam, invitation (undangan acara, pernikahan, dll), accessories, souvenir, stationery, dan fashion.

“Bahkan sekarang, Alhamdulillah kami sudah bisa membuat wallpaper dari kombinasi kedua bahan tersebut,” ungkapnya bangga.

Untuk menghasilkan kertas dari batang pisang, proses pembuatannya pun sangat mudah. Hanya membutuhkan satu buah mesin blender, beberapa lembar papan triplek, talenan, alat pemotong, dan peralatan lainnya, sudah bisa untuk mengkreasikan berbagai produk yang diinginkan. 
Secara garis besar, proses kerjanya sebagai berikut, mula-mula batang pisang dipotong kecil-kecil dan dijemur hingga kering. Menurut Neza, dimusim kemarau, untuk mengeringkan 100 kg batang pisang di bawah matahari butuh waktu hingga satu minggu. Sementara dimusim hujan memakan waktu hingga 10 hari. “Nah, dari 100 kg tersebut, jika sudah kering, akan menjadi hanya sekitar 10 kg,” jelasnya.

Selanjutnya, potongan batang pisang tersebut direndam dengan air panas hingga lunak, selama satu hari. Kemudian, dicampur dengan bubur kertas dan diproses ke blender untuk menghasilkan serat halus.

Campuran bubur pisang tersebut kemudian diperas dan dituangkan ke atas papan triplek untuk dibentuk menjadi tipis seperti kertas. Neza tak mematok banyaknya perbandingan campuran antara kertas dan serat pisang tersebut. “Ini bisa tergantung ke konsumen, mau lebih banyak kertas atau serat gedebog pisang. Jika lebih banyak seratnya, hasilnya pun lebih kuat, namun di sisi lain, kertasnya lebih kasar.”

“Sebenarnya, kertas saja kita daur ulang dan dijadikan kertas saja juga bisa. Tetapi, kertas yang hanya berbahan kertas saja, rapuh. Maka kita campurkan dengan serat pisang supaya menjadi lebih kuat dan teksturnya pun menarik dan unik,” lanjutnya.

Waktu yang dibutuhkan sejak proses awal hingga menghasilkan lembaran kertas berkisar antara 12-13 hari. Sementara kertas yang dihasilakan berukuran A1 dan A2. “Kalau standar kami untuk membuat wallpaper berukuran A1. Sedangkan ketebalan tergantung pada produk yang mau dibuatkan,” jelas Neza.

Adapun keunggulan dan keunikan menggunakan kertas dengan bahan seperti ini, yakni tekstur maupun warna bakal beragam dan berbeda pada setiap bahannya; daya serapnya pun jauh lebih lama dibandingkan dengan kertas biasa, sehingga produknya pun jauh lebih kuat.

Dari sini, beragam produk unik pun dihasilkan. Dengan bahan dasar kertas bekas dan batang pisang tersebut Neza, Dian, dan rekannya memproduksi aneka produk, seperti undangan, kartu nama, tempat pehiasan, map karton, kotak lampu, kotak pensil, aksesori, album wedding, dompet, wallpaper, dan beragam produk unik lainnya.

Produk-produknya itu kini mulai dipasarkan di Jakarta dan sekitarnya, juga ke beberapa wilayah lainnya di Tanah Air dengan harga bervariasi antara Rp 2.500/pcs seperti amplop hingga Rp 750 ribu untuk produk box wedding, dan lainnya. 
Meski keuntungan belum teramat besar, namun Neza optimis, usahanya itu bakal terus berkembang maju. Apalagi, produknya tergolong unik dan sangat menarik untuk digunakan. Neza dan Dian berharap agar semakin banyak orang mengenal dan mengetahui keberadaan usaha dan produknya tersebut. Bahkan, Neza begitu yakin, produknya tersebut pun bisa menembus pasar manca negara.

Usahanya ini kian berkembang, dan pada awal 2013 dipatenkan dengan nama Yayasan Nara Kreatif. Pada April tahun itu juga, Yayasan tersebut pun mendapatkan bantuan dan menjadi mitra BNI Syariah untuk terus mengembangkan usaha tersebut. Dan tak hanya itu, di bawah yayasan itu pula, Neza dan kawan-kawan menjadikan rumah produksinya di kawasan Perumahan Bumi Harapan Permai, Jalan Bumi Pratama III Blok K-4, Dukuh, Kramat Jati, Jakarta Timur ini sebagai Rumah Kreatifpreneur yang sekaligus memberdayakan anak-anak sekitar atau anak jalanan untuk berkreasi.

“Jadi keuntungan dari usaha kreatif ini juga kami alokasikan untuk mendidik dan melatih anak-anak yang ada di rumah kreatif ini,” tandasnya. [pius klobor/IndoTrading News]



nanomag

Mereka akan selalu mengenangmu melalui karya yang menginspirasi dan tak berkesudahan


0 thoughts on “Batang Pisang pun Jadi Beragam Produk Benilai Tinggi