BREAKING NEWS
Search

Ayu Tri Handayani, Sukses Membatik Dengan Kaki

 Selain membatik, kini Ayu tengah mendalami seni lukis. Ia optimis lukisan kakinya nanti tak kalah sempurna dengan hasil membatiknya.

Memiliki keterbatasan fisik tak lantas menghalangi niat wanita ini untuk membatik. Kedua tangan yang semestinya digunakan untuk pekerjaan tersebut tak ia miliki. Membatikpun ia lakoni hanya dengan kaki.

Adalah Ayu Tri Handayani. Wanita kelahiran Banyuanyar, Kecamatan Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah, 9 Februari 1991 ini mulai belajar membatik sejak empat tahun lalu. Sebenarnya aktivitas dengan kaki mulai menonjol ketika ia di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC), Surakarta. Saat itu, Ayu mempelajari berbagai keterampilan seperti membuat tempat tisu, merangkai manik-manik, dan lainnya.

Ayu baru mulai diajarkan secara khusus untuk membatik saat di sekolah keterampilan YPAC. Meski awalnya tak pernah tertarik untuk membatik, namun berkat dorongan dari guru-gurunya, Ayu akhirnya terus mendalami dan giat berlatih. Dan sejak itu, Ayu merasa semakin tertarik akan kegiatan baru tersebut. Ia dengan semangat terus menekuni dan mengasah kemampuan kakinya untuk dapat menggerakkan canting dengan lebih luwes.

“Awalnya memang sulit dan takut kena panas. Bahkan kulitku pernah melepuh,” ujarnya kepada IndoTrading News di area pameran Gelar Batik Nusantara (GBN) 2013 di JCC, Jakarta, Kamis (18/7/2013).
Anak kedua dari empat bersaudara ini tak patah semangat. Ia pun tak pernah merasa minder meski tidak sempurna fisiknya. Keterbatasannya tersebut justru menjadi pemicu untuk terus melangkah maju. Dan ini terbukti dengan berbagai apresiasi yang diterimanya. Batik buatan Ayu juga tak kalah dengan pekerja normal lainnya. Ia mampu mengerjakan berbagai motif, mulai dari ragam hias yang mudah hingga tersulit. Pun demikian motif lainnya, mampu dikerjakan oleh wanita mungil ini. Bahkan, batik yang dihasilkannya menjadi produk yang cukup laris diburu pembeli.

“Batik saya pernah dibeli oleh istri Gubernur Jawa Tengah, Sri Suharti Bibit Waluyo seharga Rp 15 juta. Uangnya saya belikan handphone, sepeda dan kebutuhan lainnya,” kenang Ayu.

Sembari menyelesaikan pendidikannya di Sekolah Menengah Atas (SMA), Ayu tetap membatik. Ia terus mengasah kemahiran membatiknya tersebut. Bahkan Ayu diterima bekerja di sebuah workshop batik di Solo. Dari sini, ia bisa mendapatkan penghasilannya sendiri.

“Orang tua dan teman-teman selalu mendukung saya. Makanya saya terus menekuni batik,” tambahnya.

Hasil kerja kerasnya tersebut kini sudah dijual secara komersial. Batik buatan kaki ayu dibanderol dengan harga jutaan rupiah. Mahal memang, pasalnya produk tersebut adalah batik tulis yang memang lebih mahal dari batik cetak/print.
Ayu baru saja menamatkan pendidikannya di SMA. Ia tetap optimis merajut mimpi. Bahkan Ayu bertekad untuk juga menekuni dunia lukis. Dia yakin, lukisan kaki hasilnya nanti tak kelah tenar dan sempurna dengan batik yang kini ia tekuni.

Inilah Ayu Tri Handayani, wanita tanpa tangan yang punya mimpi dan mampu berkreasi. Optimisme yang dilandasi usaha dan kerja kerasnya menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk terus berkarya, mengasah diri dan meraih mimpi dan cita-cita. Anda pun harus optimis “bisa!”. [Pius Klobor/IndoTrading News]



nanomag

Mereka akan selalu mengenangmu melalui karya yang menginspirasi dan tak berkesudahan


0 thoughts on “Ayu Tri Handayani, Sukses Membatik Dengan Kaki