BREAKING NEWS
Search

KSU Wanita Mentari 'Perkenalkan' Tenun Ikat Belasan Juta Rupiah

Salah satu kain tenun khas Lembata-NTT
Motif kain tenun khas Lembata-NTT 


KSU Wanita Mentari optimis, tenun ikat warisan budaya bakal mendapat pasar yang lebih layak.

Nusa Tenggara Timur (NTT) tak hanya terkenal akan pariwisata budaya dan alam yang eksotis. Sebagai provinsi kepulauan, NTT memiliki ragam tradisi dan adat-istiadat yang berbeda antar daerah. Demikian halnya produk-produk kerajinan yang juga tak lepas dari tradisi, yang kian menambah keunikan dan kekhasan produk tersebut. Salah satunya adalah kain tenun ikat asal Kabupaten Lembata yang akrab disebut masyarakat setempat dengan nama “Kewatek”.

KSU Wanita Mentari adalah salah satu kelompok usaha dari Desa Tagawiti, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, yang konsen memroduksi beragam kain tenun khas Lembata. Sebagaiaman dituturkan Yuliana Lito, salah satu pendiri KSU Wanita Mentari kepada IndoTrading News di arena pameran Koperasi dan UKM Festival 2013 di SME Tower, Jakarta, Rabu (5/6/2013).

Ada beberapa jenis tenun ikat atau Kewatek yang diproduksi oleh KSU Wanita Mentari, yakni tenun yang biasa digunakan sehari-hari dan tenun ikat yang biasa digunakan dalam acara adat.

“Ada sarung (tenun ikat) yang agak merah, hitam juga kombinasi kedua warna tersebut. Dan perbedaannya lainnya yang cukup mencolok adalah pada motif serta corak tenun tersebut,” ujar Mama Yuli, demikian sapaan karib Yuliana Lito.

Sebagaimana motif tenun ikat NTT pada umumnya, kebanyakan bercorak bunga dan hewan, seperti cicak, ayam, dan lainnya. Namun, motif dan corak tersebut terus berkembang menjadi lebih variatif dapat disesuaikan dengan kebutuhan atau perkembangan kehidupan masyarakat saat ini.

Tenun Lembata mempunyai ciri khas dengan dua atau tiga sambungan yang dikenal dengan kewatek nai rua (dua bagian yang disambungkan) dan kewatek nai telo (tiga bagian yang disambungkan). Kewatek nai telo adalah jenis kain yang paling tinggi nilainya.

Kain-kain tersebut, oleh masyarakat Lembata dipergunakan sebagai mas kawin dalam upacara perkawinan dari pihak keluarga perempuan yang akan diberikan kepada pihak laki-laki. Dan ini merupakan warisan budaya yang sudah ada secara turun-temurun.

Demikian halnya pada produk tenun ikat KSU Wanita Mentari ini. Tenun ikat yang dihasilkan pun tak lepas dari nilai budaya dan tradisi yang telah diwarisakan sejak dahulu. Dan hal ini terus dipertahankan untuk juga ikut melestarikan sembari memroduksi beragam produk yang memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri.

“Tidak hanya tenun adat, kami juga buat tenun yang biasa digunakan sehari-hari. Kalau tenun adat, semua bahan diambil dari alam Lembata, sementara kain tenun biasa, kami gunakan bahan sintetik, seperti benang dan pewarna yang banyak dijual di pasar,” terang Mama Yuli.

Tanpa Bahan Kimia
Untuk jenis tenun adat, proses pembuatannya bisa memakan waktu hingga 3 tahun. Semua bahan yang digunakan adalah beberapa jenis tanaman yang diambil langsung dari alam atau kebun sendiri. Dan penenun tak hanya mahir dalam menenun saja, melainkan juga sudah harus tahu cara meracik bahan-bahan tersebut. Mulai dari proses memintal kapas menjadi benang, dan selanjutnya proses pewarnaan.

“Kalau jenis tenun ikat biasa, dalam satu atau dua minggu juga sudah bisa kami selesaikan selembar kain, apalagi yang ukurannya kecil, bisa beberapa hari saja. Namun untuk jenis tenun adat, butuh waktu yang sangat lama, bisa sampai 3 tahun,” cerita Mama Yuli.

Selain kapas sebagai benang, penenun lokal biasa menggunakan beberapa jenis tanaman lain, seperti akar mengkudu untuk menghasilkan warna merah, serta daun tarum untuk warna lainnya, seperti biru. Jenis tanaman tersebut pun tak selalu ada, hanya musim tertentu baru bisa dipanen.

“Supaya mendapatkan hasil (warna) yang lebih maksimal dan tahan lama, maka benang tersebut harus direndam dalam waktu yang agak lama dan berulang-ulang. Ini juga memakan waktu yang cukup lama,” jelas Mama Yuli.

Perbedaan yang cukup mencolok, tenun ikat adat, umumnya terlihat lebih kasar dan kurang rapi dibandingkan dengan tenun ikat biasa yang sudah menggunakan benang dan pewarna sintetik. Namun, tenun adat ini memiliki nilai tradisi yang jauh lebih tinggi. Maka tidaklah mengherankan jika para kolektor sering memburu jenis kain tersebut.

Inilah yang menjadikan tenun ikat adat Lembata memiliki kualitas yang sangat layak untuk dipasarkan secara luas.

Optimis Akan Maju
KSU Wanita Mentari berawal dari sebuah kelompok arisan yang dibentuk oleh Mama Yuli pada 2008 lalu. Dalam perkembangannya, kelompok ini beralih status menjadi Koperasi Serba Usaha, pada 2011. Dan KSU yang dinamai Wanita Mentari ini pun terus berkembang, seiring adanya perhatian dari Pemerintah Provinsi NTT.

KSU ini memiliki 17 karyawan yang hampir semuanya adalah ibu rumah tangga. Namun demikian, pekerjaan menenun masih sebatas ‘sampingan’. Kegiatan ini hanya dilakukan pada hari libur atau hari tertentu yang disepakati bersama.

“Karena mata pencaharian utama mereka adalah bertani, maka berkebun atau bertani menjadi pekerjaan utama. Menenun hanya dilakukan bersama di hari Jumat. Mereka (karyawan) juga bisa melakukan pekerjaan ini di rumah masing-masing. Jadi dalam sebulan hanya sekitar empat kali kami bertemu di KSU,” paparnya.

Mama Yuli mengakui, peralatan menenun masih menjadi kendala utama saat ini, sehingga proses produksi pun seringkali terhambat. Tak hanya itu, bahan lainnya seperti benang dan pewarna pun masih cukup sulit didapatkan, maklum, usahanya tersebut terletak di desa yang cukup jauh dari pusat kota kabupaten. Namun demikian, ia bertekad KSU Wanita Mentari tersebut bakal terus berkembang maju.

Mama Yuli berharap agar pemerintah juga dapat lebih memperhatikan dan memfasilitasi kegiatan pengembangan usaha tersebut, baik peralatan maupun pameran untuk meperluas pasar. “Terutama alat-alatnya. Kalau bisa adakan 1 paket peralatan menenun agar usaha kami ini bisa berjalan dengan baik,” harapnya.

Sejauh ini, pemasaran pun hanya dilakukan di pasar lokal. Sementara pemesan dan kolektor pun hanya dari kalangan tertentu saja. Produk-produk tenun ikat tersebut dijual mulai dari Rp100-an ribu hingga belasan juta rupiah. Sementara produk yang paling banyak dibeli adalah jenis tenun ikat sintetis atau yang biasa digunakan sehari-hari, baik untuk pakaian, atau aksesori, seperti selendang, dan lainnya.

“Kain tenun adat harganya mulai dari Rp10 juta hingga belasan juta rupiah. Proses produksinya lama, dan butuh ketelitian tinggi saat membuatnya, maka memang lebih mahal” pungkas Mama Yuli. [Pius Klobor/IndoTrading News]

Anda berminat? 
Hubungi KSU Wanita Mentari: 0852 3832 7827



nanomag

Mereka akan selalu mengenangmu melalui karya yang menginspirasi dan tak berkesudahan


0 thoughts on “KSU Wanita Mentari 'Perkenalkan' Tenun Ikat Belasan Juta Rupiah