BREAKING NEWS
Search

Melirik Kerlap-Kerlip Bisnis Manik-Manik

Indonesia punya potensi pasar perhiasan yang teramat besar, demikian halnya pasar luar negeri. Untuk itu, bisnis ini menjadi peluang usaha yang sangat menjanjikan bagi Anda yang berminat.

Bisnis perhiasan manik-manik kini menjadi ladang bisnis menjanjikan bagi masyarakat Indonesia. Pasar dalam negeri, apalagi luar negeri sangat menarik untuk dijajaki dengan beragam perhiasan dan aksesori manik-manik tersebut. Cukup butuh kemauan, keuletan, dan tentu kesabaran menguntai dan merangkai berbagai aksesori tersebut, pastinya, untung berlipat dari kerlap-kerlip bisnis ini Anda raup setiap saat. Demikian dikatakan Usye Chusnul Hasanah, yang telah menggeluti bisnis ini sejak 2008 silam.

Usye, demikian sapaan akrab wanita 52 tahun ini, bisnis manik-manik bisa dilakukan oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga dewasa, termasuk juga kaum pria. “Awalnya harus punya kemauan dan like/suka dulu. Cukup menguasai beberapa teknik, dan mulailah memproduksi, tapi harus sabar dan teliti agar hasil yang didapatkan juga lebih maksimal,” kata Usye kepada IndoTrading News yang menyambangi tempat usahanya di Jalan Pondok Hijau I/33, Pondok Indah, Jakarta Selatan, Kamis (16/5/2013).

Menggeluti dunia bisnis bukanlah pengalaman baru bagi Usye. Sebelumnya, ia pernah menjalakan beberapa bisnis rumahan, seperti melukis, membatik, mosaic keramik dan usaha kerajinan lainnya. Usye sendiri baru mulai tertarik pada manik-manik saat dia tinggal di Brunei Darussalam, pada 1998-2000 silam.

“Saya baru melihat beads jadi catik saat di Brunei, ketika saya melihat wanita-wanita di sana mengenakan semua aksesori dari beads. Padahal sebelumnya saya tidak pernah menghargainya,” ungkap Usye.
Usye Hasanah, bersama beberapa karyawannya tengah merangkai perhiasan dari manik-manik (Foto: Pius)
Ketertarikan akan jenis perhiasan ini pun berlanjut, hingga ia mendalaminya melalui pendidikan formal di Jewellery Design & Management International School Singapore (JDMIS). Antara tahun 2004 hingga 2009, wanita kelahiran Bandung, 9 Maret 1961 ini mendalami beberapa disiplin ilmu, diantaranya Art Clay Modeling, Professional Stringing, Professional Wire Work, Gem Awareness, Creative Jewelry, Master of Jewelry, hingga Gemology. Bahkan Usye juga sempat menjadi tenaga pendidik tetap di salah satu institusi pendidikan di negara tersebut. Namun, Usye punya misi lain, kembali ke Indonesia dan memperkenalkan masyarakat akan peluang bisnis tersebut.

“Saya melihat peluang di Indonesia, khususnya di Jakarta jauh lebih besar dari Singapura. Untuk itu saya kembali ke Indonesia dan mulai memberikan pelatihan dan pendidikan kepada masyarakat Indonesia. Saya ingin memasyarakatkan beads di Indonesia,” terang wanita kelahiran Bandung, 9 Maret 1961 ini.

Maka sejak 2006, Usye mulai memperkenalkan dan mengedukasi masyarakat Indonesia pada beads. Berbagai kalangan diajarinya membuat berbagai perhiasan dan aksesori dari manik-manik tersebut.

“Kami punya kelas teknik wirework dan stringing, ada pemula/basic dan advance. Untuk basic 4 session/12 jam dengan biaya Rp1 juta (termasuk material), dan produk yang dihasilkan bisa langsung dibawah pulang,” kata dia.

Untuk menjadi mahir dan profesional serta bisa memproduksi sebuah perhiasan, cukup 8 kali pertemuan saja. “Bahkan sekarang saya lihat sudah ada beberapa orang yang mulai berwirausaha manik-manik,” katanya bangga.

Tangkap Peluang Bisnis
Tak hanya fokus pada edukasi, peluang pasar aksesori yang teramat besar membangkitkan kembali nalar bisnisnya. Usye pun tak buang waktu, dengan kreativitas dan kemampuannya ia segera menangkap peluang bisnis tersebut. Sejak 2008, ia kembali berbisnis, menjalankan bisnis manik-manik-perhiasan dan aksesori.

“Saya melihat masyarakat yang konsumtif di Indonesia lebih senang membeli daripada membuat sendiri. Akhirnya saya memilih untuk juga memroduksi berbagai aksesori dan perhiasan dari manik-manik,” kata dia.

Menurutnya, untuk menghasilkan sebuah perhiasan yang cantik dan berkualitas, seseorang harus benar-benar menguasai tekniknya. Teknik khusus yang diajarkan secara profesional untuk dapat memroduksi sebuah produk bernilai dan layak jual.

Alasan lain Usye menekuni bisnis ini, perhiasan menurutnya lebih mudah dijalankan lantaran tidak memakan tempat yang luas. Bisa dikerjakan dari rumah, meski di sela kesibukan lain. Apalagi, tambah dia, peminat produk fashion akan terus bertambah, baik pakaian, perhiasan dan sepatu.

“Sampaikan kapanpun bisnis perhiasan dan aksesori tidak pernah akan mati. Selain bisa didaur/didesain ulang mengikuti trend mode, jenis produk ini pun tidak pernah terlepas dari pakaian atau sepatu,” terang Usye.
Bersama beberapa karyawannya, pada 14Juni 2008, proses produksi perhiasan dengan nama “The Beadz” resmi dilakukan dari rumah. Produk-produknya pun mulai dilempar ke pasaran dengan dititipkan di beberapa shopping mall.

Perjalanan bisnisnya tersebut terus melaju. Produknya pun kian dikenal, hingga akhirnya usaha The Beadz tersebut mendapat perhatian khusus dan menjadi binaan Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Perdagangan, serta beberapa lembaga lainnya. Sejak saat itu, Usye terus diajak mengikuti berbagai kegiatan pameran, baik dalam maupun luar negeri, seperti Hong Kong, China, Malaysia, India, Uni Emirat Arab, Jepang, dan berbagai negara lainnya.

“Saat itu saya banyak belajar, jadi tidak sekadar mengikuti pameran. Di sana saya memperhatikan berbagai karakter dan trend yang sedang berkembang. Dari situ berbagai inovasi saya lakukan untuk menciptakan ragam produk yang menarik,” jelas Usye.

Adapun The Beadz product beading, antaralain brooch ruffle, bracelet-ducth spiral, turbular netting bracelet, double spiral rope bracelet, embroidery necklace, embroidery bangle, dan embroidery necklace. Sementara The Beadz product wire, seperti wire work ring, ring weaving, dan brooch backpin serta beragam produk stringing. Perpaduan gradasi warna dan material menjadikan produk-produk tersebut semakin menarik untuk segera dimiliki.

“The Beadz punya ciri sendiri yang bermula dari brooch cabochon (cabochon: jenis batu cembung di salah satu sisi, sementara sisi lainnya datar). Brooch dan kalung adalah jenis produk yang paling banyak diminati konsumen, sehingga kami lebih fokus ke situ, disamping produk-produk lainnya, seperti gelang, anting, dan lainnya,” tutur Usye.
Produk-produknya tersebut dipasarkan dengan kisaran harga mulai dari Rp50 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung jenis material yang digunakan, seperti batu, atau manik-manik yang dilapisi emas, dan lainnya.

Bahkan kini, The Beadz telah punya ‘anak’ yakni “Haute Trinket”, produk-produk perhiasan yang lebih bergaya dan menyesuaikan dengan trend anak muda. “Usaha ini didirikan oleh anak saya yang juga mendalami desain. Jadi dia meluncurkan anaknya The Beadz yang lebih ke gayanya anak muda,” katanya.

Dalam memproduksi, Usye selalu menekankan pada kualitas, juga trend produk tersebut. Untuk bahan baku, ia menggunakan manik-manik dan benang asal Jepang yang menurutnya lebih rapih dan beraturan, baik bentuk maupun ukuran harus sama (uniform). Demikian halnya lem maupun bahan baku lainnya, harus berkualitas baik. Sementara batu, Usye menggunakan bebatuan lokal yang didatangkan dari beberapa daerah. Dengan itu, semua produk The Beadz adalah produk berkualitas dan layak jual, baik di pasar dalam maupun luar negeri.

Inovasi diakuinya sebagai salah satu letak kesuksesan usahanya tersebut. Produk-produk multimaterial yang memadukan ragam material, baik batu, manik-manik, kayu, juga plastik, disebut sebagai produk yang lagi trend masa kini. Warna biasanya mengikuti trend-trend yang ada di fashion. Misalnya pada 2013 lebih ke warna hijau dan orange.

“Seperti brooch kami juga awalnya hanya tiga warna, tapi dengan berjalannya trend warna maka kami ikuti dan sekarang koleksi warnanya sudah banyak sekali,” katanya.

Seiring perjalanan waktu, produk The Beadz pun kian dikenal oleh masyarakat luas. Kini, produk-produk The Beadz telah dipasarkan di beberapa mall di Jakarta, seperti Pendopo Indonesia Mall Artha Gading; Pendopo Indonesia Living Word, Alam Sutera, Tangerang; Pasaraya Blok M; Boutique Cocomaro Wimo Shoes Kemang; dan Yayasan Dharma Bakti Astra. Sementara untuk pasar luar negeri, produk The Beadz pernah dipasarkan ke Malaysia, Jepang, Australia, Amerika, Eropa, dan beberapa negara maju lainnya.

Usye kini boleh berbangga akan pencapaiannya tersebut. Dibantu beberapa karyawan dan pengrajin yang hampir semua adalah wanita, mereka terus memproduksi beragam perhiasan dan aksesori menarik. Omzet diraihnya pun terus melejit naik. Manik-manik disebutnya menjadi peluang usaha yang sangat menjanjikan, apalagi pasar Indonesia sangatlah berpotensi untuk memajukan usaha tersebut.
Usye mengungkapkan, letak kesuksesan sebuah UKM adalah pada “3 M”, yakni Maker (Pembuat), Marketing dan Manajemen. “Kalau kita hanya bisa membuat, tentu sama saja, usaha kita tidak akan maju. Untuk itu, kita juga harus dalami marketing dan manajemen. Untuk itu, saran saya, ikutilah berbagai kegiatan seminar dan lainnya, baik yang diadakan oleh pemerintah maupun perusahaan untuk meningkatkan kualitas UKM,” terang Usye.

Meskipun demikian, sambungnya, produk UKM Indonesia masih punya beberapa kekurangan dibandingkan produk UKM negara lain yang harus terus disempurnakan. Diantaranya adalah kemasan, cara display dan harga. [Pius Klobor/IndoTrading News]



nanomag

Mereka akan selalu mengenangmu melalui karya yang menginspirasi dan tak berkesudahan


1 thought on “Melirik Kerlap-Kerlip Bisnis Manik-Manik