BREAKING NEWS
Search

Tetap Eksis Meski Krisis, UKM Ini Mampu Pasarkan 25.000 Angklung Setiap Bulan

Angklung dari UKM yang bercita-cita sebagai one stop shoping handicraft ini dipasarkan mulai dari Rp 200.000 hingga Rp 11 juta.

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada 1998 tak berpengaruh besar terhadap perjalanan UKM (usaha kecil menengah) yang satu ini. Meskipun saat itu banyak perusahaan gulung tikar lantaran tak sanggup menanggung beban dan biaya operasionalnya, UKM yang berlokasi di Jalan Padasuka 118, Bandung ini tetap eksis hingga kini.

Adalah Saung Angklung Udjo (SAU) yang tak sekadar hadir sebagai tempat wisata budaya, di sini berbagai souvenir cantik hasil karya 300an UKM Jawa Barat (Jabar) pun menjadi pelengkap buah tangan pengunjung yang datang.

Bermula sejak 1958 oleh Udjo Ngalagena bersama istrinya Uum Sumiati, usaha ini berangkat dari kepedulian terhadap berbagai warisan budaya, khususnya alat musik angklung yang terancam punah.

“Mereka ingin memperkenalkan dan dan melestarikan kesenian tradisional, khususnya angklung kepada masyarakat sekitar, juga bangsa Indonesia dan dunia. Sehingga pada 1966 mereka mendirikan sanggar kesenian Sunda yang bernama SAU,” kata Direktur Operasional SAU, Mutiara Deciana Udjo, kepada IndoTrading News.

Usaha ini pun terus berjalan dari teras rumah, hingga kini menempati areal seluas 1,2 hektar. Seiring perkembangannya tersebut SAU pun semakin mendunia dengan berbagai atraksi dan pertunjukan angklung yang memukau.

Varian Produk Bambu “Udjo”
Mutiara Deciana Udjo
UKM yang berbasis souvenir atau produk-produk yang mencirikan keaslian Indonesia memang masih jarang terlihat. Bandingkan saja dengan negara-negara lain yang telah lama menyediakan berbagai souvenir dan cinderamata khas dari negaranya. Maka, SAU hadir memanfaatkan hasil dari alam Indonesia, khususnya bambu dengan berbagai produk menariknya, terutama angklung yang terkenal dengan tangga nada pentatonik dan diatonik-nya. Angklung tak lain adalah musik khas Jawa Barat yang oleh UNESCO telah diakui sebagai warisan budaya benda dunia.

Tak hanya angklung, dari bambu tersebut juga diproduksi berbagai alat musik lainnya, seperti gambang; bass pukul; bass party; arumba (alunan rumpun bambu: seperangkat alat musik pukul (xylophone) dan getar yang terbuat dari bambu); calung; suling; kendang; dan berbagai produk lainnya.

“Semua ini merupakan hasil inovasi dan kreasi dari para ahli maupun pekerja yang memang sudah sangat lihai dan ahli di bidang ini,” sebut Mutiara, sapaan akrab Mutiara Deciana Udjo.

Kata dia, alat musik yang diproduksi di SAU memiliki warna dan karakter suara yang sangat jernih, dan unik, serta sulit ditemukan pada alat musik sejenis yang diproduksi di tempat lain.

“Suara angklung dari brand lain sangat berbeda dengan angklung Udjo, ini pun diakui oleh pelanggan kami. Produk kami dikerjakan langsung oleh ahli angklung yang juga adalah para murid Udjo Ngalagena,” terangnya. Diakuinya, pembuatan dan penyelarasan suara merupakan titik tersulit saat memroduksi alat musik ini.

Lengkapnya, alat musik yang diproduksi tersebut, antaralain angklung mini; angklung unit kecil, sedang, hingga angklung unit besar; angklung melodi 2 dan 3 tabung; angklung sarinande (plus); dan angklung TK. Ada juga arumba unit kecil hingga unit besar; arumba melodi 2 tabung; akompanyemen mayor dan minor; gambang; gambang mini; calung; gamelan awi; dan kendang.

“Semua produk ini kami produksi dengan tujuan untuk dapat digunakan semuanya, tidak mubazir. Jadi penggunaannya bisa disesuaikan, misalnya untuk anak TK, SD, SMP, universitas, atau kalangan profesional, dan lainnya,” terang wanita kelahiran 8 Januari 1971 ini.

Produk ini pun dipasarkan dengan harga bervariasi, yang disesuaikan dengan tingkat kesulitan pengerjaan, serta ukuran dan pemanfaatannya. Range harganya mulai dari Rp 200.000 hingga Rp 11 jutaan.

“Harga termahal biasanya digunakan untuk orkestra, jadi lengkap dengan kontra bass dan lainnya. Ini biasanya untuk di SMA, universitas, juga untuk umum,” sambung dia.

Sebagaimana angklung adalah produk yang telah diakui dunia, kini SAU memiliki tugas untuk terus mewariskan dan melestarikan produk ini, tentu dengan tetap menjaga mutu dan kualitas produknya. Ada empat tugas pokok yang mesti terus di lakukan SAU, yakni memelihara angklung, mempromosikannya, melindunginya, dan meregenerasikan produk tersebut.

“Empat hal inilah yang harus terus kami jaga agar supaya angklung tetap menjadi budaya bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, setiap penjualan angklung dari kami, selalu dilengkapi dengan garansi dan servis secara berkala. Dan lebih dari itu, pembeli juga mendapatkan kesempatan untuk dilatih secara gratis dari kami,” terang ibu dari Bayu Satrio Wibowo (22).

Berkaitan dengan keberlangsungan proses produksi, pihak SAU juga menjalin kerjasama dengan Perhutani untuk melakukan pelestarian bambu, khususnya bambu hitam yang menjadi bahan baku pembuatan angklung tersebut.

“Jadi kegiatan kami ini dari hulu ke hilir. Karena kalau cuma di hilir saja, maka bambu bisa punah. Maka kami menggandeng Perhutani dan UNPAD untuk terus menjaga hulunya (bahan baku). Selain itu juga dengan Bank Jabar untuk terus menjaga dan membina keberlangsungan para pengerajin,” kata Mutiara.

Berkembang dari Luar Negeri
Seiring berbagai pertunjukan memukau yang dipentaskan di berbagai negara, maka tak heran usaha yang mempekerjakan lebih dari 1.000 pekerja, baik karyawan tetap, pemain angklung dan mitra lainnya ini lebih dahulu dikenal di luar negeri. Dari sana terus merambah, dan tak hanya terkenal dengan atraksi panggungnya saja, namun juga pada berbagai varian produknya tersebut.

“Jadi SAU justru lebih dulu terkenal di luar negeri, terutama melalui berbagai pertunjukannya. Di Indonesia baru belakangan ini, dan orang Bandung sendiri pun ada yang tahu SAU dari turis-turis yang datang,” terang putri bungsu pewaris SAU ini.

Diakuinya, sejak semakin terkenalnya SAU tersebut, maka pesanan produk-produk angklungnya pun semakin meningkat. Per bulannya, SAU mampu memasarkan lebih dari 25.000 angklung dalam berbagai jenis.

“Pesanan angklung kita memang cukup banyak. Dalam situasi normal kami bisa kirim mencapai 25.000 angklung. Sementara jika ada event-event tertentu, maka pesanan bisa lebih dari itu,” kata Mutiara.

Tak hanya berbagai perusahaan dan institusi di Jabar saja yang mendominasi pesanan berbagai alat musik dari bambu tersebut. Daerah lainnya, seperti Jawa Timur dan Sumatera Utara juga cukup mendominasi.

“Sekarang kami juga mulai kebanjiran pesanan dari sekolah-sekolah di beberapa daerah di timur Indonesia. Sementara untuk di wilayah Jabar, kami disupport langsung oleh Pemerintah Daerah Jabar untuk menyalurkan angklung ke sekolah-sekolah,” jelasnya.

Tak ketinggalan pasar luar negeri juga terus meminta produk-produk SAU tersebut. Sebut saja Autralia, Jepang, dan beberapa negara lainnya.

“Yang rutin dari luar negeri adalah Korea. Dalam tiga bulan pesanan mereka bisa mencapai 10.000-15.000 angklung. Di sana memang hampir semua sekolah sudah memiliki dan memainkan alat musik ini,” terang Mutiara.

Maka, tak dapat dipungkiri pula, pertumbuhan bisnis SAU yang terus berkembang pesat ini mendatangkan omzet yang mencapai Rp 1 miliar setiap bulannya. Pemasukan tersebut terbesar berasal dari berbagai event pertunjukan, juga hasil penjualan produk, dan unit usaha lain.

“Omzet ini juga tergantung dari musimnya ya. Untuk kisaran per bulannya bisa mencapai Rp 1 miliar dari semua unit usaha. Pemasukan tertinggi dari pertunjukan musik angklung yang mencapai 65 persen dibanding penjualan produk angklungnya,” jelas Mutiara.

Namun dalam pengembangan usaha tersebut, Sarjana Akuntansi dari salah satu universitas di Bandung ini bilang, pihaknya masih terkendala pada pasokan bahan baku, yakni bambu hitam, bambu tali, dan bambu gombong. Kelangkaan tersebut, menurut dia, lantaran banyak orang menggunakan jenis bambu tersebut untuk berbagai kebutuhan.

“Mereka gunakan bambu tersebut untuk berbagai kebutuhan mulai dari furnitur, hingga tusuk gigi dan sumpit tanpa melihat dahulu jenis bambu yang digunakan. Dengan demikian, persediaan tiga jenis bambu yang terbilang cukup spesifik ini pun perlahan semakin menipis,” ujarnya.

Souvenir Shop SAU
Punya cita-cita sebagai one stop shoping hadicraft, sekaligus membantu pemerintah dalam membrantas pengangguran, kini SAU juga gencar membantu UKM untuk memasarkan produk-produk kerajinannya. Kerajinan yang rata-rata berbahan bambu tersebut didominasi oleh UKM asal Jabar.

“Sekarang kami memiliki banyak sekali koleksi produk kerajinan tangan yang rata-rata terbuat dari bambu. Sudah lebih dari 300 UKM yang bergabung bersama kami, dan 80 persen berasal dari Jabar. Sisanya dari luar Jabar,” kata Mutiara.

Menurut dia, UKM tersebut sangat terbantu karena begitu banyak pengunjung yang tertarik dengan produk-produk di Souvenir Shop tersebut. “Pengunjung yang datang di SAU rata-rata mencapai 10.000 orang per bulan yang didominasi oleh pengunjung domestik. Dengan ini, kami sangat berharap agar semakin tinggi pula transaksi yang terjadi di Souvenir Shop tersebut,” harapnya.

Tak hanya itu, Mutiara juga berharap agar semakin banyak lagi UKM yang mau bergabung, memasarkan produknya di sini. Namun demikian, kata dia, produk-produk yang masuk pun harus diseleksi terlebih dahulu untuk menyeragamkan kualitas maupun visi-misi, serta target dari SAU.

“Degan ini, kami berharap dapat berperan membantu pemerintah, terutama dalam mengatasi pengangguran sekaligus juga melestarikan budaya bangsa,” tegasnya.

Berbagai produk UKM yang dipasarkan di Souvenir Shop ini dilego mulai dari Rp 2.500 hingga Rp 3 juta. Souvenir angklung merupakan produk yang paling laris di unit usaha SAU beromzet Rp 200 juta per bulan ini.

Pusat Budaya Jabar
Tak hanya Souvenir Shop, ternyata SAU juga memiliki laboratorium yang menyediakan berbagai informasi dan pengetahuan tentang angklung juga berbagai alat musik khas Jabar lainnya. Selain itu, SAU juga punya ruang pertunjukan yang mampu menampung hingga 500 orang.

“Kami juga ingin menjadikan SAU sebagai pusat budaya Jabar, terutama bagi para pelajar atau mahasiswa yang menekuni atau belajar soal musik dan budaya Jabar ini,” sebut Mutiara.

Untuk pertunjukan, sambungnya, dalam setahun SAU mampu melakoni 1.365 kali pertunjukan atau rata-rata per hari 3 kali pertunjukan. Atraksi musik angklung ini dilakukan oleh 400 pemain angklung yang 300an diantaranya adalah anak sekolah. Mereka terbagi dalam beberapa tim, dan pertunjukan pun bisa dilakukan di dalam gedung SAU maupun di tempat atau kota-kota lain. Untuk tiket pertunjukan dikenakan biaya sebesar Rp 60.000 dan Rp 40.000 per pengunjung domestik dewasa dan anak-anak (pelajar). Sedangkan untuk wisatawan asing dikenakan biaya sebesar Rp 100.000.

“Terkadang dalam sehari bisa sampai delapan kali pertunjukan, baik di dalam SAU maupun di luar, seperti di hotel maupun tempat lainnya,” terang Mutiara. Dan tak hanya di dalam negeri, berbagai atraksi menarik telah dipertontonkan kepada dunia internasional di berbagai negara.

“Kalau mau dibilang, hanya kutub utara dan selatan saja yang belum kami datangi untuk adakan pertunjukan angklung. Bahkan, dalam suasana perang seperti di Moskow, Rusia juga kami datangi hingga angklung kami ada yang pecah. Sementara di Libya, kami berhasil mengibur TNI yang sedang bertugas di sana, meski perang juga sedang berkecamuk,” kenangnya.

Dari berbagai upaya dan kerja keras tersebut, maka tak heran jika SAU pun telah menerima berbagai penghargaan, baik terhadap Udjo Ngalagena, sang pendiri, maupun terhadap usaha SAU ini. Penghargaan tersebut antaralain datang dari pemerintah daerah, instansi, maupun pemerintah pusat, juga dari dunia internasional, ditambah lagi dengan pemecahan beberapa rekor dunia.

Penghargaan Adhikarya Pariwisata dari Presiden RI pada 1988, merupakan salah satu penghargaan yang tak terlupakan hingga kini. Selain itu, Adikarya Pariwisata 1992 kepada Udjo Ngalagena yang diberikan oleh Menteri Pariwisata Seni Dan Budaya; Adhikarya Pariwisata oleh Presiden RI pada 1997, dan dari Museum Rekor Dunia Indonesia pada 2007, atas prestasi penyelenggara memainkan alat musik angklung dengan peserta terbanyak yakni sebanyak 10.000 orang.

Pada 2009 dan 2010, SAU dan Udjo Ngalagena kembali mendapatkan penghargaan Satyalancana Kebudayaan dan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma dari Presiden RI. Sementara di tingkat internasional, SAU mendapatkan sertifikat pengakuan dari UNESCO untuk angklung sebagai Representative list of Intangible Cultural Heritage of Humanity, sebagai bentuk warisan budaya tak benda dari Indonesia.

Dan, yang telah tercatat pula di Guinness Book of Records adalah pada 2011 lalu, dimana SAU berhasil memukau dunia dengan menampilkan atraksi permainan angklung yang diikuti oleh warga sekitar di lapangan terbuka Washington Monumen National Park, pada juli 2011 lalu.

“Jadi ada 5.182 angklung yang berhasil dimainkan oleh turis asing dan warga sekitar secara spontan. Dan untuk memastikan jumlah peserta tersebut, dilakukan penghitungan sampai tiga kali. Inilah yang paling menarik bagi kami,” tuturnya.

Teranyar adalah pada 2012 lalu, Presiden RI menganugerahi Penghargaan Upakarti kepada Mutiara Deciana Udjo atas keberhasilannya sebagai individu dalam membina dan mengembangkan UKM di wilayah Jabar.

“Penghargaan Upakarti yang saya dapat adalah mengenai program terhadap UKM binaan SAU. UKM nyaman kerjasama dengan SAU karena bukan hanya modal dan pembinaan yang mereka dapatkan, akan tetapi ketenangan dalam berproduksi karena kami aktif mempromosikan produk mereka. Modal bukan saja materi, akan tetapi bahan baku yang siap diproses,” tutupnya bangga. [Pius Klobor/IndoTrading News]


TAG

nanomag

Mereka akan selalu mengenangmu melalui karya yang menginspirasi dan tak berkesudahan


0 thoughts on “Tetap Eksis Meski Krisis, UKM Ini Mampu Pasarkan 25.000 Angklung Setiap Bulan