BREAKING NEWS
Search

Tampil Beda dengan Produk Kontemporer Asli Indonesia

Fitria Nahdi, pemilik Nahdi Jewellry yang memroduksi berbagai aksesori dan perhiasan khas Indonesia (Foto: Pius)
Perlengkapan serta aksesoris yang memiliki nilai sejarah dari berbagai wilayah di Indonesia ternyata menjadi sangat menarik jika diracik menjadi ragam perhiasan modern. Produk yang hampir punah ini kini kembali diuntai melalui usaha kreatif (UKM) Nahdi Jewellry.

Begitu banyak jenis perhiasan yang Anda jumpai di pasaran. Tapi, pernahkah Anda melihat atau bahkan mengenakan perhiasan-perhiasan kontemporer yang tentu berbeda dengan lainnya? Ya beda, bentuknya asimetris dengan didesain yang unik, serta menyerupai berbagai perlengkapan dan aksesoris khas dari berbagai daerah di Indonesia.

Perhiasan tersebut, antara lain Mamuli dan Kanatar dari NTT, gelang dan anting dari Batak, anting dari Dayak, kalung dari Aceh. Atau perhiasan dan aksesoris lama lainnya, seperti Anahida, Maraga, Boh’ru, Gondang-gondang, Sangguri, dan sebagainya. Sebagaimana diketahui, produk-produk tersebut biasanya digunakan dalam upacara adat atau pernikahan di daerah.

Nah, bagaimana rasanya ketika Anda mengenakan produk-produk tersebut dalam sebuah acara di lingkup yang lebih modern?

Di tangan Fitria Nahdi, produk-produk bernilai etnik dan sangat bersejarah dari berbagai daerah di Indonesia tersebut ‘disulap’ menjadi produk modern yang tentu mengikuti desain dan gaya masa kini yang modis dan trendi. Anda akan terlihat sangat cantik dan anggun ketika mengenakan ragam macam perhiasan dan aksesoris ini.

“Jadi saya merepro berbagai perhiasan khas dari berbagai daerah di Indonesia yang memang hampir punah dan tidak banyak orang yang tahu soal ini,” ujar Fitria Nahdi, pemilik usaha yang berlabel Nahdi Jewellry ini.

Wanita yang biasa disapa Fitri ini telah menekuni usahanya sejak 2004 silam. Ia mendesain dan merangkai ulang berbagai perhiasan tersebut dengan tren dan gaya masa kini, namun tetap mempertahankan fungsi serta wujud aslinya. Sebut saja untuk corak warna atau ukuran. Dia berani memadukan berbagai warna serta menambahkan beberapa aksesoris tambahan pada beberapa perhiasan hingga terlihat benar-benar modis, dan cantik.

“Jika kita berani tampil beda dengan produk yang bagus, apalagi asli dari Indonesia, pasti banyak orang yang akan mencari produk kita ini,” tegas wanita kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, 6 Juni 1954.

Diakuinya, sebelum memroduksi sebuah produk, terlebih dahulu dia melakukan riset, baik melalui internet, membaca buku, maupun terjun langsung ke wilayah tersebut. “Jadi sebelum saya membuat sebuah produk, terutama produk khas dari sebuah daerah, maka saya juga harus tahu daulu cerita sejarah dibalik produk tersebut,” tutur Fitri sembari mengungkapkan beberapa cerita klasik asal-usul produknya.

“Jadi, saya tidak hanya menjual produk, tapi juga menjual cerita, sehingga pengguna produk ini pun tahu asal-usul atau sejarah, serta fungsi asli dari produk ini,” sambung Fitri yang mengaku nilai lebih tersebut telah menjadikan produk-produknya selalu laris diburu pembeli, terutama kaum hawa.
Perhiasan dan aksesori khas Nusantara, seperti Mamuli dan Kanatar dari NTT, gelang dan anting dari Batak, anting dari Dayak, kalung dari Aceh serta Anahida, Maraga, Boh’ru, Gondang-gondang, Sangguri, dan sebagainya.
Dikatakannya, khusus untuk produk-produk khas dari daerah langsung dikerjakan oleh para pengerajin di daerah asal produk itu. Ini, lantaran menurut dia, hasilnya akan lebih baik karena pengerajin lokal lebih mengetahui dan memahami arti dari produk tersebut.

“Saya cuma memberikan sedikit gambaran, selanjutnya mereka yang mengerjakannya sendiri. Ini juga kan membantu meningkatkan ekonomi keluarga mereka,” sebut ibu 2 putra dan 1 putri ini.

Untuk bahan baku, sebut istri Pilot Penerbang Garuda Indonesia, Handiarto ini, apapun bisa digunakan, termasuk bahan baku yang ‘aneh’.

“Apa saja yang ada di sekitar saya bisa dijadikan sebuah perhiasan, seperti kalung, gelang, anting, cincin, dan bros. Bisa logam, kain, kayu, batu, mutiara, tulang, dan sebagainya. Bahkan sumbu kompor, jam bekas, koin, sisa potongan celana jeans dan kabel pun saya gunakan untuk beberapa produk saya,” ungkapnya.

“Enaknya bisnis perhiasan ya, kaya gini. Produknya gak kadaluarsa sehingga bisa diperbaharui. Sebentar lagi kan mau Imlek, nuansa merah. Jadi beberapa produk saya yang belum laku bisa saya perbaharui,” tambahnya.

Dengan desain kontemporer yang memadukan unsur etnik daerah, maupun tanpa unsur daerah, serta produk murni hasil karyanya, Fitri mengaku perharinya dia bersama beberapa karyawannya mampu memroduksi hingga 50 set perhiasan.

Sementara perhiasan yang dia hasilkan itu dipasarkan dengan harga bervariasi, mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 5 juta. Produk yang mahal biasanya menggunakan bahan-bahan tertentu seperti bebatuan yang langka.

Fasih dengan Pasar
Ragam produk Nahdi Jewellry (Kiri atas ke kanan: Kalung Kanatar tunggal NTT Rp 500.000, Kalung Tanimbar Rp 350.000, Kalung Sutra dengan Amulet Rp 500.000, Kalung Mamuli NTT dasi Rp 750.000, Kalung New design dengan mutiara air tawar dan pirus, kalung dan tasbih dari mutiara air tawar Rp 400.000, Kalung dari Aceh Rp 750.000, Kalung dan mutiara tawar Rp 400.000, Kalung sutra dan Bohru Aceh Rp Rp 350.000.
Dalam menjalankan dan mengembangkan usahanya, lulusan Ilmu Politik FISIP Universitas Indonesia ini mengaku tak menemui hambatan yang berarti. Didasari hobi dan kecintaannya pada produk serta budaya Indonesia, Fitri bilang, usahanya tersebut kian dikenal sehingga pasarnya pun semakin luas.

Pengalaman berbisnis yang diperolehnya di beberapa perusahaan tempat dia bekerja sebelumnya, menjadi modal berharga bagi Fitri. Tak ayal, selera pasar sudah cukup fasih baginya. Tak hanya pasar dalam negeri, sebut saja beberapa pasar luar negeri, seperti Brunei Darusalam, Singapore, Jepang, Hongkong, Italy, Berlin, Perancis, Algeir, Argentina, Mesir, Senegal, Nairobi, Afrika Selatan, Inggris, Turki, dan Dubai.

“Kalau pembeli Afrika lebih menyukai perhiasan yang ada mutiaranya, sebab di sana susah mendapatkan mutiara. Kalau saya pameran di sebuah negara yang memuja batu, maka model di luar itu tidak saya bawah,” terangnya. Dalam setahun, Fitri bisa mengikuti delapan kali pameran di dalam negeri dan 8-13 kali pameran ke luar negeri. “Itu pun saya seleksi dulu,” tegasnya.

Pameran luar negeri yang pernah ia ikuti, antaralain Indonesia In-store Festival 2012 di Takashimaya Tamagawa Tokyo pada 11-17 April 2012, pameran International Jewellery Kobe (IJK) ke-16 di Kobe, Jepang. Ada pula Inacraft, Australia New Zealand Woman Association (ANZA), British Woman Association (BWA), dan American Woman Association (AWA).

“Dari pengalaman saya, negara-negara di Timur Tengah dan Afrika paling banyak membeli perhiasan saya,” sebut Fitri.
Meskipun banyak mengikuti pameran luar negeri dengan pembeli yang juga terus meningkat, namun baginya, pasar dalam negeri tetaplah yang lebih potensial. “Justeru pembeli dalam negeri, khususnya di Jakarta saja sudah cukup tinggi. Jadi kalau mau memilih memang saya lebih suka pasarkan di dalam negeri.”

Untuk pameran dalam negeri, kata dia, nilai transaksi sekali pameran bisa mencapai Rp 80 – Rp 150 juta. “Itu pameran selama lima hari,” ujarnya.

Kini, dengan kesuksesannya membangun usaha ini, Fitri pun sering diundang oleh berbagai lembaga/instansi untuk menceritakan kisah suksesnya sekaligus memberikan motivasi untuk membangun sebuah usaha menjadi entrepreneur. Dia pun siap menerima siapa saja yang ingin belajar membangun usaha, terutama perhiasan.

“Jika ada orang yang ingin belajar ya datang saja. Bawah kalungnya atau apapun yang bisa kita sama-sama kreasikan menjadi sebuah perhiasan cantik dan menarik,” tutupnya. [Pius Klobor/IndoTrading News]



nanomag

Mereka akan selalu mengenangmu melalui karya yang menginspirasi dan tak berkesudahan


0 thoughts on “Tampil Beda dengan Produk Kontemporer Asli Indonesia