BREAKING NEWS
Search

Ditentang Orangtua, Muliamin Buktikan dengan Ekspor Resleting

Muliamin, pemilik PT Fajarindo Faliman Zipper, adalah salah satu contoh wiraushawan sukses yang memulai usahanya karena hobi. Meski ditentang orang tua, ia berhasil membuktikan dengan rutin mengekspor resleting ke berbagai negara. (Foto: Pius)
MULIAMIN belum mau pensiun. Meski tak terlibat langsung dalam produksi resleting, namun pendiri PT Fajarindo Faliman Zipper ini tetap eksis dalam melakukan berbagai penelitian dan pengembangan perusahaannya. Di usia yang ke-66 tahun, ia masih semangat mengembangkan usahanya itu, lantaran bisnis ini merupakan kesukaan dan hobinya sejak lama. Sesekali ia sempat guyon dan bercanda menceritakan lika-liku, suka dan duka ia membangun bisnis yang awalnya ditentang orangtuanya ini. Resleting yang awal dibilang seperti “cacing” itu, kini telah merambah ke pasar dunia, dan dollar pun mengalir ke kantongnya.

Berikut nukilan wawancara Wartawan IndoTrading News dengan Muliamin di kantornya, di Jl. Faliman Jaya, Tangerang.

Bagaimana awal bapak membangun perusahaan ini?
Perusahaan ini kita mulai secara bertahap, mulai dari home industry di Medan, Sumatera Utara pada sekitar tahun 1960-an. Saat itu, saya kuliah di UMI (Universitas Methodist Indonesia) Medan. Tingkat pertama saya masuk di Sastra Bahasa Inggris, tingkat kedua ke Teknik Mesin. Namun pada 1966, saya mundur dari universitas karena saat itu tidak ada aktivitas di kampus lantaran adanya gerakan PKI. Saya mundur dan membantu usaha orangtua, berdagang garmen dan aksesoris, termasuk resleting, benang-benang, dan kancing-kancing. Tetapi hobi saya bukan di situ, kurang cocok. Akhirnya saya putuskan untuk berdiri sendiri.

Jadi sejak saat itu bapak mulai mendirikan perusahaan ini?
Ya, jadi memang secara bertahap, meski saat itu orangtua sangat tidak menyetujui keputusan saya ini. Namun saya bertekad untuk membuktikan bahwa saya bisa sukses lewat bisnis yang saya sukai ini. Dan saya mulai dari resleting.

Apa yang meletarbelakangi bapak untuk memilih bisnis resleting?
Saat itu, resleting yang terkenal di Indonesia hanya yang dari Jepang, dan pemesanannya pun membutuhkan waktu yang sangat lama. Jadi ini yang menjadi salah satu hal yang memotivasi saya untuk mengisi peluang pasar tersebut, bagaimana mensuplai resleting ke Indonesia agar lebih lancar. Oleh sebab itu kita mulai mengimpor semi produk (bahan setengah jadi/long chain) dari Taiwan sekitar tahun 1970-an dan kita merakit sendiri. Mulai saat itu kita menjual produk resleting hasil rakitan kita.
Satu hal lagi, ini juga mungkin karena bakat dan hobi saya. Talenta yang dianugerahkan Tuhan, saya senangnya di mesin, khususnya mesin-mesin produksi. Jadi saya sangat suka buat-buat mesin untuk produksi. Makanya sekarang, ada mesin-mesin tertentu yang kita produksi sendiri, seperti mesin untuk membuat/merakit komponen resleting, salah satunya adalah mesin untuk menggabungkan slider.
Salah satu ruangan proses produksi aneka produk dari resleting (Foto: Pius Klobor)
Apa saja kendala dan tantangan diawal merintis usaha ini?
Dari awal memang banyak suka dan dukanya. Dan memang pertama kali kita produksi, mutunya sangat tidak memuaskan. Diketawai orang, katanya kaya (seperti) cacing. Dari situ kita terus perbaiki dan sempurnakan. Kita tekuni tekniknya secara detail. Dan akhirnya bisa baik seperti sekarang.

Lantas bagaimana bapak memulai bisnis ini di Jakarta?
Saat menjalankan bisnis ini, kita melihat bahwa market di Pulau Jawa lebih besar. Akhirnya kita putuskan untuk pindah ke Jakarta. Kita mulai dengan menyewa ruko (rumah toko) tiga lantai di daerah Pinangsia, Jakarta Barat. Seiring pesatnya perkembangan saat itu, ruko pun sudah tidak bisa menampung karyawan, akhirnya pada 1979 kita pindah ke Daan Mogot ini. Ini pun dimulai dari lahan seluas 1000 m2, setelah itu terus berkembang dan akhirnya saat ini mencapai 10 hektar. Di sini, kita bisa produksi resleting secara komplit, mulai dari hulu hingga hilir.

Siapa yang memberikan pelatihan kepada karyawan Fajarindo untuk dapat membuat resleting sebagus ini?
Saya tegaskan, semua karyawan di sini adalah putra-putri Indonesia, dan saya sendiri yang melatih mereka. Kita tidak pernah memakai tenaga ahli dari luar. Saya sendiri pernah belajar ke beberapa perusahaan zipper di luar negeri, seperti di Taiwan.

Bagaimana dengan bahan baku yang digunakan sekarang ini, apakah masih impor atau lokal?
Hanya sebagian kecil saja yang kita impor. Tapi itu pun sangat terbatas, hanya beberapa jenis saja. Justru belakangan ini sudah mulai kita alihkan ke bahan lokal yang kita datangkan dari beberapa daerah, seperti dari Surabaya.

Bagaimana dengan pemasarannya, apakah pasar internasional masih cukup subur?
Untuk ekspor terus kita lakukan, dan tanggapan pasar internasional sangat bagus terhadap produk kita ini.

Sejak kapan kegiatan ekspor dilakukan dan ke negara mana saja resleting Fajarindo ini dipasarkan?
Dari tahun 1980-an kita sudah mulai ekspor ke Eropa, seperti ke Perancis dan Italia. Pernah suatu waktu ekspor terhenti karena serbuan produk impor dari China. Namun setelah itu kita mulai berkembang lagi, seperti ke Turki, India, Peru, Argentina, Mesir, Panama, Pakistan, Uni Emirat Arab, Belanda, dan lainnya.

Bagaimana dengan pasar lokal?
Justru sebagian besar pemasaran resleting ini adalah di pasar lokal. Kami distribusikan melalui saluran distribusi kami yang ada di beberapa daerah. Produk kami ini bisa masuk ke industri-industri, seperti pembuatan tas, baju, dan sebagainya, juga masuk penjahit

Semua produk yang diproduksi dilabeli merek Amcozip? Lantas apa arti dibalik nama itu?
Sebenarnya ada dua merek. Untuk ekspor kita pasarkan dengan merek Amcozip, sementara di pasar lokal dengan merek Indozip. Indozip ya, artinya zipper yang asli Indonesia. Sementara Amco, kita berkonotasi, “A” Arizal yang adalah saudara saya, sementara “M” Muliamin, dan “CO” Company. Sementara Faliman, itu nama ayah saya. Dan kenapa jalan sampai ke depan itu dinamakan Jl Faliman Jaya, itu juga kerena kita sudah cukup tua di sini, serta sumbangsi kita terhadap kegiatan-kegiatan sosial.

Bisnis seperti ini kan sering juga bikin pusing. Apa yang bapak lakukan untuk terus berjalan maju?
Memang benar, bisnis seperti dagangan ini bikin pusing, tapi justru itulah seninya. Jadi ambilnya di kanan jualnya ke kiri, ketahuan untung-ruginya berapa. Jadi prosesnya sangat sederhana. Jadi memang industri itu pusing, tapi dalam kepusingan itu banyak hikmatnya.

Lalu bagaimana strategi bapak untuk bisa menguasai pasar di tengah persaingan yang tentu sangat tinggi?
Satu keunggulan kita adalah sejak awal kita sudah menguasai Bahasa Inggris. Ini menjadi satu modal bagi kita. Kedua, kita punya satu filosofi bahwa kita orang dagang bukan hanya berpikir untuk mencari untung semata, tapi bagaimana kita mendapatkan hati orang dulu. Jadi yang kita utamakan adalah pelayanan, sehingga bisa berjangka panjang. Satu lagi, pesaing kita bukan menjadi musuh sehingga kita mesti iri pada mereka, tapi mereka adalah teman dimana kita mau belajar apa yang menjadi keunggulan dari mereka. Jadi ini adalah cara kita untuk bisa memenangkan pasar resleting.

Bagaimana dengan inovasi produk sebagai salah satu strategi menguasai pasar tersebut?
Jadi kita tidak hanya terpaku pada resleting saja. Tapi dari resleting itu kita kembangkan ke berbagai produk, seperti tas dengan berbagai jenis dan ukuran, tempat tisu, dasi yang menggunakan resleting, dan sebagainya. Kita juga punya produk lain, seperti hook & loop fastener (magic tape), polyester webbing tape (aksesoris garmen), dan kancing (snap button). Jadi kita terus upayakan pengembangan agar pasar kita juga semakin luas.
Apa yang menjadi filosofi bapak dalam membangun bisnis ini?
Ini kita kembali pada firman Tuhan. Semuanya ada di sana. Pendek kata dari iman.

Bapak sudah sukses membangun usaha ini. Apa hikmah dan makna positif dari perjalanan panjang ini?
Setidak-tidaknya banyak SDM dari putra-putri Indonesia yang sudah terlatih. Dan untuk bidang ini, kita tidak memperoleh ilmunya dari pendidikan formal. Jadi tidak ada universitas yang ngajari kita membuat resleting. Di area kami ini juga ada politeknik, jadi kalau ada anak-anak yatim piatu, atau anak karyawan, kita latih di sini. Setelah itu kita tempatkan mereka di bengkel-bengkel. Dan pada umumnya akan kita tarik kembali untuk bekerja di sini.

Sekarang bapak sudah berhasil membangun perusahaan ini dan menyerahkan tambuk kepemimpinan kepada anak bapak. Lantas apa yang bapak kerjakan di perusahaan ini? Tidakah memilih untuk pensiun?  
Manusia lebih bagus jangan pensiun. Mobil saja, jika dalam satu bulan tidak digunakan mesinnya akan macet. Maka dari itu, kita harus tetap bergerak, tentu dengan semangat dan kemampuan yang kita miliki. Apalagi ini adalah hobi dan kesukaan saya.
Sekarang saya sendiri memang tidak berkecimpung di dalam produksi ini, tapi saya berkecimpung di dalam research and development. Untuk produksi saya serahkan kepada anak saya. Bahkan, terkadang saya tidak tahu, berapa harga penjualan satu lusin resleting.

Apa aktifitas bapak, selain terlibat dalam perusahaan ini?
Saya terlibat sebagai aktivis dalam pelayanan di Gereja. Untuk olahraga, saya suka renang, main tenis, dan pingpong. Golf? Terlalu banyak buang waktu.

Meski bapak sempat melawan keinginan orangtua saat awal membangun bisnis ini, tapi hal apa yang bapak petik dari nilai-nilai positif orangtua tersebut?
Memang banyak hal yang membuat kita sering bertentangan atau tidak cocok dengan orangtua. Ini bisa dikarenakan zaman yang beda, atau cara pikir yang berbeda. Namun yang kita pelajari dari orangtua adalah semangatnya, atau sikpanya. [Pius Klobor/IndoTrading News]


Baca Juga:



nanomag

Mereka akan selalu mengenangmu melalui karya yang menginspirasi dan tak berkesudahan


0 thoughts on “Ditentang Orangtua, Muliamin Buktikan dengan Ekspor Resleting