BREAKING NEWS
Search

Sunrise Steel, Produksi Baja Ringan “Zinium”, Tahan Lebih Lama

Selain ke industri/pabrik jadi, Sunrise Steel juga mendistribusikan Zinium untuk mensupport UKM. Namun yang patut diwaspadai adalah serbuan produk baja impor (dumping) yang mungkin akan melemahkan pabrik baja dalam negeri.

Baja ringan, sejatinya adalah produk yang mudah diaplikasikan dan digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari rangka atap bangunan, hingga berbagai perabot dan perlengkapan di dalamnya. Di Indonesia, baja ringan semakin diminati, tidak lagi oleh kalangan ‘berada’ untuk pembangunan proyek besar dan berbagai keperluan mewah, tetapi digunakan juga oleh masyarakat bisa pada rumah tinggal, tempat usaha, dan sebagainya.

Adalah PT Sunrise Steel, salah perusahaan yang yang memeroduksi dan memasarkan baja ringan jenis galvalum dengan merek dagang “Zinium”. Sejak berdiri dua tahun lalu, perusahaan dengan pabrikan yang bermarkas di Mojokerto, Jawa Timur ini telah memasarkan produknya ke industri-industri baja/pabrik jadi di berbagai wilayah di Indonesia, juga luar negeri.

“Untuk lokal kami distribusikan sebanyak 80 persen, sedangkan sisanya untuk pangsa pasar ekspor, seperti ke Australia dan Thailand,” ujar Marketing Manager Sunrise Steel, Rahmat Sulaiman, kepada IndoTrading.com, di bilangan Jakarta Selatan, akhir bulan lalu.

Menurut dia, kebutuhan masyarakat Indonesia akan produk baja ringan terus meningkat. Produk Zinium ini, sambungnya, mudah dibentuk sehingga bisa digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari atap, kuda-kuda baja ringan, bahan kubah masjid, jendela, pagar, dispenser hingga pemanas nasi, alat-alat dapur, bagian belakang kulkas, kompresor AC, karoseri kendaraan, dan sebagainya.

“Jadi hampir semua kebutuhan, baik di rumah, kantor, maupun pabrik atau perusahaan bisa menggunakan Zinium,” tegasnya.

Dengan kapasitas produksi yang mencapai 10 ribu ton per bulan, Sunrise Steel terus berekspansi menjajaki pasar-pasar yang belum terjamah. Untuk luar negeri, kata Rahmat, pihaknya lebih fokus pada pasar ASEAN yang dianggap lebih mudah. Sementara untuk pasar domestik, Indonesia bagian timur dipandang sebagai pasar yang potensial untuk dikembangkan.

“Kami memang lebih fokus dalam negeri. Sebagian besar produk kami didistribusikan di wilayah barat Indonesia, khsusunya Jakarta dan sekitarnya. Namun sekarang, kami juga fokus untuk pengembangan di pasar-pasar wilayah Indonesia Timur,” terangnya.

Menyebut keunggulan Zinium, Rahmat bilang, selain mudah dibentuk menjadi berbagai aplikasi desain, Zinium juga memiliki permukaan yang lebih bersih dan halus. Selain itu, dengan campuran yang optimum antara aluminium, zinc (seng) dan silikon sebagai unsur logam lapisannya, membuat produk ini lebih tahan terhadap korosi.

“Menggunakan produk ini bisa tahan lebih dari sepuluh tahun, sehingga lebih ekonomis. Zinium juga mempunyai kemampuan untuk memantulkan panas, sehingga memungkinkan suhu ruangan lebih terjaga,” urainya.

Zinium Menyasar Segmen UKM
Selain mendistribusikan Zinium ke perusahaan-perusahaan pengolahan baja, lempengan baja tersebut juga disasar untuk kalangan Usaha Kecil dan Menengah (UKM).

“Sekarang memang sudah mulai berjalan kerja sama kami dengan industri-industri kecil. Jadi dengan Zinium tersebut mereka bisa menciptakan berbagai bentuk produk, termasuk kerajinan,” kata Rahmat.

Disebutkannya, produk-produk yang dihasilkan UKM, antara lain kompor, drum, tempat sadap karet, tempat obat nyamuk, kandang ayam, dan berbagai macam produk lain.

“Zinium memiliki begitu banyak keunggulan, dengan demikian, produk-produk yang dihasilkan para perajin dan UKM tersebut juga memiliki kualitas yang sangat baik,” terangnya.

Untuk mendukung UKM tersebut, Rahmat bilang, produk Zinium bagi UKM memiliki harga tersendiri. “Yang jelas, harganya lebih murah. Ini komitmen kami untuk mendukung perkembangan UKM di Indonesia,” ujarnya.

UKM-UKM mitra Sunrise Steel, tersebar di beberapa wilayah di Indonesia, seperti di Bandung, Cilegon, dan beberapa daerah lain. “Mereka inilah yang kemudian mendistribusikan produk-produk tersebut ke industri-industri kecil, yang rata-rata adalah industri rumahan,” terangnya.

Produk Impor jadi Batu Sandungan
Bukan tanpa aral. Persaingan antara industri baja dalam negeri pun terus meningkat seiring peningkatan permintaan. Namun demikian bagi Rahmat, itu bukanlah masalah besar. Persoalan terbesar menurutnya, adalah pada produk-produk impor yang ‘bebas’ masuk ke Indonesia.

“Yang menjadi masalah bagi kami saat ini adalah bukan soal kompetisi antara industri yang sama di dalam negeri, tapi justru produk impor. Karena impor ini terjadi dumping, terutama dari pabrik-pabrik di Vietnam, China, dan Taiwan. Jadi barang-barang sejenis dengan kita masuk ke Indonesia dengan harga yang lebih murah dari produk lokal,” ungkapnya.

Kata dia, masyarakat Indonesia juga perlu diedukasi soal ini, pasalnya, produk-produk impor dan murah tersebut belum tentu memiliki standar yang aman terhadap kesehatan, juga kualitas yang belum tentu baik.

Untuk ini, Rahmat berharap agar pemerintah lebih tegas terhadap perusahaan dan produk baja impor, serta juga memberikan perlindungan terhadap industri baja dalam negeri.

“Dengan mekanisme yang ada, pemerintah harusnya melindungi pabrik-pabrik yang baru seperti Sunrise Steel. Karena perusahaan inilah yang mencukupi kebutuhan dalam negeri. Berapa banyak perusahaan galvanis yang merugi,” tegas Rahmat. [Pio/IndoTrading News]



nanomag

Mereka akan selalu mengenangmu melalui karya yang menginspirasi dan tak berkesudahan


0 thoughts on “Sunrise Steel, Produksi Baja Ringan “Zinium”, Tahan Lebih Lama