BREAKING NEWS
Search

Delapan Bulan Bisnis Clay, Arie Nabila Raup Omzet Belasan Juta per Bulan

Beragam aksesori wanita yang terbuat dari clay (Foto: Patty)
Di tengah kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, Arie Nabila mampu menghasilkan pendapatan yang mencapai belasan juta rupiah. Ini dimulai dengan modal buku seharga Rp 10.000.

Siapa sangka, clay yang kerap digunakan anak-anak untuk bermain ternyata memberikan keuntungan yang berlipat ganda? Di tangan Arie Nabila, produk clay berbahan baku tepung tapioka dan maizena ini dikreasikan dalam ragam aksesoris, berupa bros dan kalung, yang membawa keuntungan hingga belasan juta rupiah per bulan.

Kegiatan ini bermula pada Februari, awal tahun ini. Awalnya, wanita yang biasa disapa Arie ini mengajak sejumlah ibu rumah tangga untuk mencari kesibukan, sekadar mengisi waktu luang. Sadar tak memiliki keahlian, namun Arie sudah terlanjur berjanji. Ia terus maju, yakin bahwa dia bisa melatih para ibu rumah tangga tersebut.
Arie Nabila (Foto: Patty)
“Saya memang tidak punya keahlian. Makanya saya sempat bingung mau memberikan pelatihan apa ya,” tutur Arie kepada IndoTrading News, di rumahnya, Depok, Jawa Barat.

“Akhirnya saya putuskan untuk melatih ibu-ibu membuat aksesoris dari clay. Kebetulan waktu itu sedang ada diskon buku di Tokoh Buku Gramedia, dan buku tentang aneka kreasi dengan clay dijual seharga Rp 10.000,” sambungnya sumringah.

Akhirnya Arie mengajak para ibu rumah tangga tersebut berkreasi, membuat beragam bunga.

“Kami semua tidak punya pengalaman. Kami belajar secara otodidak, mencoba dan terus mencoba, hingga akhirnya terbentuk seperti bunga,” ceritanya bangga.

Respons Positif
Ragam produk bros “Cah Ayu” (Foto: Patty)
Rasa cemas dan bersalah kembali menghantui Arie, lantaran ibu-ibu telah berhasil membuat ragam kreasi bunga dari clay. Selanjutnya, apa yang harus dilakukan agar produk-produk itu bisa memberikan manfaat dan hasil bagi mereka.

Meski dengan berat hati, akhirnya, Arie pun membeli semua hasil kreasi para ibu tersebut. “Banyaklah sudah yang numpuk di rumah. Saya bingung mau diapakan,” tegasnya.

Bulan berikutnya, tepatnya Maret 2012, Arie memutuskan untuk mencoba menjual produk-produk tersebut. Dengan sedikit sentuhan, dan perpaduan beberapa material, bunga-bunga unik tersebut pun disulap menjadi bros dan kalung. Dari situ, Arie pun mencoba menjajakannya ke pusat-pusat perbelanjaan dan pasar-pasar.

“Di sini (baca: Depok) ada pasar pagi, saya coba jajakan, eh ternyata laku. Responsnya sangat bagus,” ungkapnya. “Itu pengalaman pertama saya berjualan.”

Tanggapan pasar positif, ibu tiga anak ini tancap gas. Ia terus menggenjot penjualan, menjajakan perhiasan handmade, hasil kreatifitasnya yang dinamakan “Cah Ayu” ini. Pasar-pasar modern hingga pasar tradisional ia datangi. Pusat-pusat perbelanjaan hingga gerai dan toko-toko kelontong ia sambangi, sekadar menawarkan produknya itu.

“Saya perkenalkan juga via facebook. Di media sosil ini juga mendapatkan sambutan yang sangat baik,” tuturnya sembari memperagakan pembuatan bunga clay.

Tak hanya itu, di setiap kesempatan, Arie selalu ‘memamerkan’ dan memperkenalkan produk-produk yang terlihat cantik dan unik tersebut.

Dari itu, proses produksi terus dilanjutkan. Para ibu rumah tangga yang sedari awal membuat aksesoris ini pun menjadi mitra kerjanya. Sementara Arie, sang kreator, terus berinovasi mencari bentuk dan model yang tengah menggandrungi para pemburu aksesoris, khususnya para wanita.

Jajaki Pasar Luar Negeri
Siapa yang tak tertarik dengan produk unik dan cantik ini. Terutama para wanita, produk-produk aksesoris hasil inovasi wanita lulusan Universitas Udayana Bali ini kian dicari, lantas bisa digunakan sebagai cinderamata, baik bagi teman, saudara, atau bahkan para tamu di sebuah kegiatan.

Entah itu berupa bros yang dihiasi beragam variasi bunga dan dapat disematkan di baju, jilbab dan sebagainya. Atau yang berbentuk kalung, yang akan sangat indah ketika melingkari leher seorang wanita pujaan hati.

Kerajinan tangan yang diproduksi oleh ibu rumah tangga asal Kediri, Jawa Timur ini pun kian mempesona. Kini, dia tidak lagi menjual eceran, melainkan dalam partai besar ke agen dan reseller dengan harga sekitar Rp 12-an ribu untuk bros, dan kalung Rp 25 ribu.

Tak hanya itu, produknya pun mendapat pesanan dari sejumlah negara tetangga, seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.

“Saya rutin mengirim produk-produk ini ke Malaysia dan Brunei. Di sana bisanya costumer saya menjualnya ke ibu-ibu yang bekerja di kantor-kantor dan instansi, maupun ke EO (event organizer) untuk hadiah dalam sebuah acara,” jelas wanita 40 tahun ini.

“Seperti beberapa waktu lalu, saya mendapatkan pesanan dari warga negara Brunei untuk acara nikahan sebanyak 900 pieces,” sambungnya.
Melihat geliat pasar yang demikian, Arie menaruh optimis, pasar aksesoris clay hasil inovasinya akan terus berkembang. Pasalnya, pemesanan produk-produk tersebut terus berdatangan, dari dalam maupun luar negeri.

Kini, setiap bulannya, Arie mampu memproduksi sekitar 3.000 pieces aksesoris, baik berupa bros maupun kalung berhiaskan ragam bunga dengan corak warna nan indah.

Demikian halnya pendapatan, Arie mengaku, per bulan ia dapat mengantongi belasan juta rupiah. Lebih dari itu, ia mengaku puas, ibu-ibu yang menjadi mitra kerjanya pun bisa mendapatkan pemasukan setiap bulannya.

“Per bulan mereka bisa mendapatkan pemasukkan hingga Rp 1,6 juta. Jadi ini ada nilai ekonomi dan sosialnya. Mereka bisa bekerja, tanpa mengganggu pekerjaan utamanya,” jelas Arie.


***
Nah, bagi Anda yang tertarik menjadi agen penjualan atau ingin memesan produk-produk unik ini sebagai hadiah dalam sebuah acara, dapat memesannya (pre order) minimal empat bulan sebelumnya. Corak warna dan bentuknya dapat dipesan sesuai keinginan pembeli. [Pio/IndoTrading News]



nanomag

Mereka akan selalu mengenangmu melalui karya yang menginspirasi dan tak berkesudahan


0 thoughts on “Delapan Bulan Bisnis Clay, Arie Nabila Raup Omzet Belasan Juta per Bulan